YOU CAN GET ALL

Saturday, 21 August 2010

Peninggalan wali pengembara

SEBUAH surau tua masih berdiri di Dusun Wonokerso, Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno, Wonogiri. Karena sejarahnya, bangunan tersebut masuk dalam daftar cagar budaya. Tempat peribadatan umat Islam tersebut terbuat dari kayu jati seluas 7 X 7 meter. Menurut penuturan Mashudi (65) takmir masjid setempat, tempat ibadah di kampungnya ini dibangun oleh para wali semasa berkelana mencari kayu jati untuk membangun masjid Demak.

”Surau tersebut memanglah cukup tua. Karena kondisinya sudah cukup menghawatirkan, pada tahun 2002 direnovasi namun tidak merubah bentuk asal. Ada beberapa kayu yang sudah dimakan usia, terpaksa diganti yang baru. Tapi gantinya juga dicarikan kayu jati yang berkualitas,” katanya.

Pintu utama untuk masuk ke masjid tersebut juga tidak diubah walau ukurannya terbilang kecil, kira-kira hanya satu meter persegi. Konon, pintu sengaja dibuat kecil agar siapapun yang masuk ke surau tersebut menundukkan kepalanya, sebagai pertanda menghormati tempat ibadah.

Begitu sampai di dalam surau terdapat empat pilar yang menyangga bagian atap. Uniknya, dari empat pilar tersebut, bentuk ompak (penyangga bagian bawah pilar) berlainan. Berbentuk persegi panjang, berbeda-beda ukuran, dengan bagian atasnya mengerucut. Saat renovasi tahun 2002, saka yang terdapat di sebelah depan kanan terpaksa diganti karena di dalamnya keropos dan membahayakan.

Tambahan lain juga terlihat di bagian atas. ”Dulu, surau tersebut tidak menggunakan genting, tapi ditutup dengan sirap kayu, sekarang menggunakan genting, tapi di bawah genting dipasangi pagu yang terbuat dari kayu jati. Untuk Disinggung soal sejarah, Mashudi tidak dapat menceritakan secara panjang lebar, sebab orang-orang pendahulunya pun tidak banyak tahu secara detail keberadaan surau tersebut.

"Cerita yang diturunkan kepada kami hanyalah, surau tersebut dibangun oleh para wali yang sedang mengembara mencari kayu jati untuk membangun masjid Demak. Para wali tersebut sedianya ke hutan yang disinggahi Ki Donoloyo (sekarang dikenal Hutan Donoloyo di Kecamatan Slogohimo, Wonogiri)."

Dalam pengembaraannya tersebut, sejumlah wali yang diikuti para tukang kayu, singgah di salah sebuah hutan yang belum ada penduduknya (kini menjadi kampung Wonokerso) dan menyempatkan membuat surau. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Ki Donoloyo.

Pengembaraan itu, diperkirakan sebelum tahun 1479 masehi, atau sebelum berdirinya masjid Demak. Dalam perkembangannya, masih kata Mashudi, pada tahun 1741 atau tahun 1666 Jawi, Pangeran Sambernyawa atau juga dikenal dengan nama RM Said, pergi dari Keraton Kartasura dan melakukan perlawanan dengan Belanda di wilayah Wonogiri. Dan sampailah di hutan yang pernah disinggahi para wali tersebut. RM Sambernyawa dan pasukannyalah yang menemukan surau buatan para wali tersebut.

Selanjutnya, RM Said ke rumah Ki Ageng Majasto untuk menceriterakan surau temuannya tersebut. Dari Ki Ageng Majasto RM Said mengajak tiga orang warga Majasto yang masing .masing bernama Anjali, Karnafi dan Tuhuwono untuk menjaga kelestarian surau tersebut, dan jadilah sekarang surau tersebut berada ditengah perkampungan. Pm-yan

No comments:

Post a Comment