untaianberita
Listrik dari Sampah Bantar Gebang
Written by Jawa Pos
Sunday, 04 April 2010 22:50
Sampah yang tidak berharga bisa disulap menjadi komoditas luar biasa di TPST (tempat pembuangan sampah terpadu) Bantar Gebang, Bekasi. Selain dijadikan kompos, limbah itu juga bisa diubah menjadi bahan baku untuk pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Rencananya, PLTSa itu diresmikan bulan ini. ''Sekarang hanya masalah penetapan tanggal dalam rangka penyesuaian agenda gubernur Jabar dan DKI Jakarta. Menteri lingkungan hidup juga sudah siap. Jadi, tidak ada lagi masalah,'' ujar Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad saat dihubungi Jawa Pos Selasa lalu (30/3). Dirut PT PLN Dahlan Iskan juga dijadwalkan hadir saat peresmian.
Agus N. Santosa, presiden direktur PT Navigat Organic Energy Indonesia, pengelola PLTSa Bantar Gebang, mengatakan bahwa secara teknis sudah tidak ada masalah pada PLTSa Bantar Gebang. Namun, pihaknya perlu berkoordinasi dengan Pemkot Bekasi untuk meresmikannya. Semula, PLTSa terbesar di tanah air itu diresmikan Selasa lalu (30/3), tetapi kemudian diundur. ''Tinggal menunggu hari H-nya saja,'' katanya.
Menurut Agus, perusahaan yang dia pimpin itu sejak awal memang sangat ingin mengubah limbah buangan tersebut menjadi listrik. Sebelum PLTSa di Bantar Gebang, pihaknya membuat proyek serupa di Bali. Kapasitas PLTSa di Bali itu mencapai 9,8 MW (megawatt). ''Sayang, tumpukan sampah di Bali kurang. Tidak sebesar di sini (Bantar Gebang),'' tuturnya.
Di Bantar Gebang, setiap hari tersedia 4 ribu-6 ribu ton sampah dari Jakarta dan kawasan sekitar. Awalnya, sampah yang menggunung itu berserakan dan berbau. Tetapi, sejak November 2008, Navigat mulai merapikan dan menutupi dengan tanah (cover soil). Hal itu dimaksudkan agar tumpukan sampah yang tingginya sampai lebih dari 20 meter itu tidak longsor.
Itu juga bagian dari upaya mengurangi kebocoran gas methane yang dihasilkan sampah. Gas yang mudah terbakar itu menimbulkan bau menyengat di sekitar lokasi pembuangan sampah. Sebagian tumpukan dilapisi dengan membran (seperti plastik) sehingga tidak ada lagi gas yang keluar. ''Membran itu juga berfungsi sebagai pelindung agar air tidak masuk ke dalam tumpukan sampah,'' terang Agus.
Gas yang keluar dari sampah itulah, yang diambil untuk menggerakkan mesin pembangkit listrik. Tiga teknologi pengolahan sampah menjadi listrik bernilai Rp 700 miliar dipersiapkan agar menghasilkan listrik 26 MW. Teknologi pertama adalah landfill gasification. Di dalam tumpukan sampah, dibuat sumur-sumur kecil berdiameter 60 sentimeter. Sumur tersebut digunakan sebagai perangkap gas yang keluar dari sampah.
Di Bantar Gebang terdapat lima tumpukan sampah. Luas masing-masing bisa sampai 15 hektare. Dari setiap tumpukan itu (biasa disebut zona), Navigat baru memfungsikan tumpukan sampah di zona II dan sebagian kecil di zona I. Total sumur yang dibuat di zona II berjumlah 59 buah. Dari jumlah itu, gas yang dihasilkan mampu menggerakkan dua buah mesin pembangkit berkapasitas masing-masing 1 MW.
''Saat ini memang baru dua mesin itu yang kami pasang. Yang lain masih dalam order dan akan datang bertahap,'' tutur Agus. Dia menargetkan pada April nanti datang dua mesin pembangkit produksi GE (General Electric) Jerman. Selanjutnya, akan datang enam unit hingga akhir tahun nanti. Jadi, total kapasitas yang dihasilkan mencapai 8 MW.
Navigat menargetkan bisa menghasilkan listrik 12 MW dari teknologi landfill gasification. Setelah itu, akan dipersiapkan teknologi lain, yaitu Thermal Process7 Gasification (mengolah sampah organik kering dengan cara pyrolysis atau pemanasan dalam ruang tertutup atau hampa udara). Potensi gas yang dihasilkan dari teknologi ini 7 MW.
Lantas, teknologi ketiga yang dipersiapkan adalah anaerobic digestion, yaitu pemilahan sampah organik basah untuk diproses secara biologi, lalu difermentasi untuk menghasilkan gas. Listrik yang bisa dihasilkan dari teknologi itu 5 MW. ''Total rencana kami, di TPST Bantar Gebang akan bisa dihasilkan listrik 26 MW,'' jelas Agus.
Direktur Navigat Okky A.W. Tjandrawinata menambahkan, proyek PLTSa harus diperjuangkan karena berdampak positif bagi alam. Di luar negeri, proyek seperti itu mendapat subsidi dari pemerintah. Jadi, listriknya bisa dijual USD 10/Kwh (kilowatt per hour). Di Indonesia, listrik sampah dihargai Rp 850 per Kwh. ''Kami maklum karena keuangan negara kita masih seperti ini,'' katanya.
Yang penting, ungkap dia, proyek pembangkit tenaga listrik harus dibuat menjadi usaha bankable. Artinya, perbankan harus menilai proyek itu mampu menghasilkan keuntungan sehingga mau membiayai. ''Pokoknya, kalau bank sudah berani membiayai, itu berarti potensinya bagus. Investor akan berbondong-bondong membangun PLTSa. Listrik terjamin, target pemerintah tercapai,'' jelasnya.
Untaian Berita dari Indonesia yang menampilkan informasi dari berbagai surat kabar dalam negeri dan luar negeri.
YOU CAN GET ALL
Showing posts with label Ilmu Proyek. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Proyek. Show all posts
Monday, 15 November 2010
TPA Bantar Gebang - Proyek Listrik
Wednesday, 10 November 2010
Alat Tiang Pancang
untaianberita
Proyek-proyek besar seperti gedung pencakar langit memerlukan fondasi yang kuat untuk menyangga beban yang besar di atasnya. Jika daya dukung tanah dilokasi tidak memungkinkan untuk menahan beban yang besar,, fondasi semacam ini sangat diperlukan. Bentuk dari fondasi yang umum dipakai sebagai penyangga bangunan adalah pondasi tiang. Bahan dasar fondasi tiang yang umumnya dipakai adalah kayu, beton, baja, dan komposit. Jenis-jenis pondasi beton dapat berupa fondasi precast-prestesed dan fondasi cast-in place. Fondasi precast dan fondasi tiang dari baja dan komposit umumnya disebut sebagai fondasi tiang pancang karena fondasi ini dipancangkan pada suatu titik di atas permukaan tempat akan dibangun suatu bangunan. Pemancangan ini menggunakan alat pancang khusus.
A. Alat Tiang Pancang
Ada beberapa jenis alat pemancangan tiang yang digunakan didalam proyek konstruksi. Alat –alat tersebut antara lain :

1. Drop Hammer
Drop hammer merupakan palu berat yang diletakan pada ketinggian tertentu di atas tiang palu tersebut kemudian dilepaskan dan jatuh mengenai bagian atas tiang. Untuk menghindari menjadi rusak akibat tumbukan ini, pada kepala tiang dipasangkan semacam topi atau cap sebagai penahan energi atau shock absorber. Biasanya cap dibuat dari kayu.
Pemancangan tiang biasanya dilakukan secara perlahan. Jumlah jatuhnya palu permenit dibatasi pada empat sampai delapan kali. Keuntungan dari alat ini adalah :
a). investasi yang rendah
b). mudah dalam pengoperasian
c). mudah dalam mengatur energi per blow dengan mengatur tinggi
Kekurangan dari alat ini adalah :
a). kecepatan pemancangan yang kecil
b). kemungkinan rusaknya tiang akibat tinggi jatuh yang besar
c). kemungkinan rusaknya bangunan disekitar lokasi akibat getaran pada permukaan tanah
d). tidak dapat digunakan untuk pekerjaan dibawah air
2. Diesel Hammer
Alat pemancang tiang tipe ini berbentuk lebih sederhana dibandingkan dengan hammer lainnya. Diesel hammer memiliki satu silinder dengan dua mesin diesel, piston, atau ram, tangki bahan baker, tengki pelumas, pompa bahan baker, injector, dan mesin pelumas. Kelebihan diesel :
a). ekonomis dalam pemakaian
b). mudah dalam pemakaian di daerah terpencil
c). berfungsi dengan baik pada daerah dingin
d). mudah dalam
Kekurangan alat ini adalah :
a). kesulitan dalam menentukan energi per blow
b). sulit dipakai pada tanah lunak
3. Hydraulic Hammer
Cara kerja hammer ini adalah berdasarkan perbedaan tekanan pada cairan hidrolis. Salah satu hammer tipe ini dimanfaatkan untuk memancang fondasi tiang baja H dan fondasi lempengan baja dengan cara dicengkeram, didorong, dan ditarik. Alat ini baik digunakan jika ada keterbatasan daerah operasi karena tiang pancang yang dimasukan cukup pendek. Untuk memperpanjang tiang maka dilakukan penyambungan pada ujung-ujungnya.
4. Vibratory Pile Driver
Alat ini sangat baik dimanfaatkan pada tanh lembab. Jika material dilokasi berupa pasir kering maka pekerjaan menjadi lebih sulit karena material tidak terpengaruh dengan adanya getaran yang dihasilkan oleh alat. Efektifitas penggunaan alat ini tergantung pada beberapa factor yaitu amplitude, momen eksentrisitas, frekuensi, berat bagian bergetar dan berat lain tidak bergetar.
B. Penahan dan Pengatur Letak Tiang
1. Fixed Lead
Pengaturan posisi tiang dengan cara ini menggunakan lead yang terdiri dari rangkaian baja dengan tiga sisi berkisi seperti boom pada crane dan sisi yang satu terbuka. Sisi yang terbuka adalah tempat tiang diletakan.
2. Swing Lead
Jika lead tidak disambungkan dengan crane atau pelat pemancang pada bagian bawahnya maka lead jenis dinamakan swing lead.
3. Hydraulic Lead
system yang digunakan pada metode ini adalah dengan menggunakan silinder hidrolis sebagai pengaku. Silinder hidrolis tersebut merupakan penghubung bagian bawah lead dengan pemancang. Dengan system ini pengaturan posisi tiang dapat dilakkan secara lebih akurat dan cepat.
C. Pemilihan Alat Pemancang Tiang
Kriteria-kriteria pemilihan alat pancang antara lain : jenis material, ukuran berat, pancang tiang yang akan dipancangkan, bagaimana kondisi lapangan yang mempengaruhi pengoperasian, hammer yang akan dipilih harus seuai dengan daya dukung tiang dan kedalaman pemancangan dan pilihlah alat yang ekonomis dengan kemampuan alat yang sesuai dengan yang dibutuhkan.
Proyek-proyek besar seperti gedung pencakar langit memerlukan fondasi yang kuat untuk menyangga beban yang besar di atasnya. Jika daya dukung tanah dilokasi tidak memungkinkan untuk menahan beban yang besar,, fondasi semacam ini sangat diperlukan. Bentuk dari fondasi yang umum dipakai sebagai penyangga bangunan adalah pondasi tiang. Bahan dasar fondasi tiang yang umumnya dipakai adalah kayu, beton, baja, dan komposit. Jenis-jenis pondasi beton dapat berupa fondasi precast-prestesed dan fondasi cast-in place. Fondasi precast dan fondasi tiang dari baja dan komposit umumnya disebut sebagai fondasi tiang pancang karena fondasi ini dipancangkan pada suatu titik di atas permukaan tempat akan dibangun suatu bangunan. Pemancangan ini menggunakan alat pancang khusus.
A. Alat Tiang Pancang
Ada beberapa jenis alat pemancangan tiang yang digunakan didalam proyek konstruksi. Alat –alat tersebut antara lain :

1. Drop Hammer
Drop hammer merupakan palu berat yang diletakan pada ketinggian tertentu di atas tiang palu tersebut kemudian dilepaskan dan jatuh mengenai bagian atas tiang. Untuk menghindari menjadi rusak akibat tumbukan ini, pada kepala tiang dipasangkan semacam topi atau cap sebagai penahan energi atau shock absorber. Biasanya cap dibuat dari kayu.
Pemancangan tiang biasanya dilakukan secara perlahan. Jumlah jatuhnya palu permenit dibatasi pada empat sampai delapan kali. Keuntungan dari alat ini adalah :
a). investasi yang rendah
b). mudah dalam pengoperasian
c). mudah dalam mengatur energi per blow dengan mengatur tinggi
Kekurangan dari alat ini adalah :
a). kecepatan pemancangan yang kecil
b). kemungkinan rusaknya tiang akibat tinggi jatuh yang besar
c). kemungkinan rusaknya bangunan disekitar lokasi akibat getaran pada permukaan tanah
d). tidak dapat digunakan untuk pekerjaan dibawah air
2. Diesel Hammer
Alat pemancang tiang tipe ini berbentuk lebih sederhana dibandingkan dengan hammer lainnya. Diesel hammer memiliki satu silinder dengan dua mesin diesel, piston, atau ram, tangki bahan baker, tengki pelumas, pompa bahan baker, injector, dan mesin pelumas. Kelebihan diesel :
a). ekonomis dalam pemakaian
b). mudah dalam pemakaian di daerah terpencil
c). berfungsi dengan baik pada daerah dingin
d). mudah dalam
Kekurangan alat ini adalah :
a). kesulitan dalam menentukan energi per blow
b). sulit dipakai pada tanah lunak
3. Hydraulic Hammer
Cara kerja hammer ini adalah berdasarkan perbedaan tekanan pada cairan hidrolis. Salah satu hammer tipe ini dimanfaatkan untuk memancang fondasi tiang baja H dan fondasi lempengan baja dengan cara dicengkeram, didorong, dan ditarik. Alat ini baik digunakan jika ada keterbatasan daerah operasi karena tiang pancang yang dimasukan cukup pendek. Untuk memperpanjang tiang maka dilakukan penyambungan pada ujung-ujungnya.
4. Vibratory Pile Driver
Alat ini sangat baik dimanfaatkan pada tanh lembab. Jika material dilokasi berupa pasir kering maka pekerjaan menjadi lebih sulit karena material tidak terpengaruh dengan adanya getaran yang dihasilkan oleh alat. Efektifitas penggunaan alat ini tergantung pada beberapa factor yaitu amplitude, momen eksentrisitas, frekuensi, berat bagian bergetar dan berat lain tidak bergetar.
B. Penahan dan Pengatur Letak Tiang
1. Fixed Lead
Pengaturan posisi tiang dengan cara ini menggunakan lead yang terdiri dari rangkaian baja dengan tiga sisi berkisi seperti boom pada crane dan sisi yang satu terbuka. Sisi yang terbuka adalah tempat tiang diletakan.
2. Swing Lead
Jika lead tidak disambungkan dengan crane atau pelat pemancang pada bagian bawahnya maka lead jenis dinamakan swing lead.
3. Hydraulic Lead
system yang digunakan pada metode ini adalah dengan menggunakan silinder hidrolis sebagai pengaku. Silinder hidrolis tersebut merupakan penghubung bagian bawah lead dengan pemancang. Dengan system ini pengaturan posisi tiang dapat dilakkan secara lebih akurat dan cepat.
C. Pemilihan Alat Pemancang Tiang
Kriteria-kriteria pemilihan alat pancang antara lain : jenis material, ukuran berat, pancang tiang yang akan dipancangkan, bagaimana kondisi lapangan yang mempengaruhi pengoperasian, hammer yang akan dipilih harus seuai dengan daya dukung tiang dan kedalaman pemancangan dan pilihlah alat yang ekonomis dengan kemampuan alat yang sesuai dengan yang dibutuhkan.
Anggregat dan Alat Pengangk
untaianberita
Pemanfaatan agregat dalam proyek konstruksi sangatlah luas. Salah satu pemanfaatan agregat adalah sebagai bahan dasar pembuat beton dan campuran aspal. Selain itu juga digunakan sebagai bahan pembuat jalan. Guna mendapatkan kerikil atau batuan pecah yang sesuai dengan ukuran yang diharapkan maka diperlukan suatu alat untuk memotong material. Alat pemecah batuan yang digunakan adalah crusher.

A. CRUSHER
Crusher berfungsi untuk memecahkan batuan alam menjadi ukuran yang lebih kecil sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Selain memisahkan batuan hasil pemecahan dengan menggunakan saringan atau screen. Crusher terdiri dari beberapa bagian yaitu crusher primer, crusher sekunder, crusher tersier.
Setelah batuan diledakan, batuan dimasukan kedalam crusher primer. Hasil dari crusher primer dimasukan kedalam sekunder untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Bila hasil crusher sekunder belum memenuhi spesifikasi yang ditetapkan maka batuan diolah kembali di crusher tersier dan seterusnya.
Tabel Jenis crusher beserta rasio reduksi

1. Jaw Crusher
Cara kerja alat ini adalah dengan menggerakan salah satu jepit, sementara jepit yang lain diam. Tenaga yang dihasilkan oleh bagian yang bergerak mampu menghasilakn tenaga untuk menghancurkan batuan yang keras. Kapasitas jaw crusher ditentukan oleh ukuran crusher.
2. Roll Crusher
Roll crusher dugunakan sebagai sekunder atau terseier setelah batuan elewati crusher tipe lain yang berfungsi sebagai crusher primer. Roll crusher terdiri dari single roll dan double roll. Single roll digunakan untuk memecahkan batuan yang lembap dan tidak menguntungkan jika digunakan untuk memecahkan batuan yang abrasive. Kapasitas roll crusher tergantung pada jenis batuan, ukuran crusher primer, ukuran batuan yang diinginkan, lebar roda dan kecepatan roda berputar.
B. CONVEYOR BELT
Conveyor Belt merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan tanah, pasir, kerikil batuan pecah beton. Kapasitas pemindahan material oelh belt conveyor cukup tinggi karena material dipindahkan secara terus menerus dalam kecepatan yang relative tinggi. Bagian dari belt conveyor adalah belt atau ban berjalan, idler, unit pengendali, pulley, dan struktur penahan. Jika material yang akan dipindahkan memiliki jarak perpindahan yang relative pendek maka portable conveyor dapat digunakan.
1. Belt
Belt terdiri dari beberapa lembar (ply) bahan disatukan dengan semacam perekat. Jumlah lapisan dapat 4, 6, 7, 8 dan seterusnya. Sedangkan berat setiap lapisan adalah 28, 32, 36, 42 oz dst. Bagian permukaan belt ditutupi oleh karet yang berfungsi untuk menghindari terjadinya abrasi akibat gesekan material.
2. Kapasitas Belt
Berat material yang dipindahkan oleh belt conveyor ditentukan dengan menggunakan rumus berikut ini :
T = 60ASW/2000
dengan :
T = berat material yang dihitung dalam ton/ jam
A = potongan luas area material (sq ft)
S = kecepatan ban (ft/menit)
W = berat jenis material (lb/cft)
3. Idler
Idler merupakan alat yang menahan ban. Idler bagian atas yang menahan beban berbentuk trapesiun dimana sepertiga lebar dibagian tengah rata dengan kedua bagian sisi yang mirring, sedangkan idler bagian bawah berbentuk rata. Untuk menentukan daya angkut belt conveyor maka tenaga yang diperlukan oleh idler untuk bergerak perlu ditetapkan. Tenaga tersebut tergantung dari tipe dan ukuran idler, berat bagian yang berputar, berat ban, dan berat material.
4. Tenaga Untuk Menggerakan Belt
Sejumlah tenaga luar yang dibutuhkan untuk menggerakan sebuah conveyor belt. Tenaga itu diperlukan untuk menggerakan belt dalam keadaan kosong, memindahkan beban secara horizontal serta mengangkat atau menurunkan beban secara vertical. Ketiga tenaga tersebut kemudian dijumlahkan untuk mengetahui tenaga total yang dibutuhkan.
5. Feeder
Feeder yang diletakkan di bagian awal sebauh system conveyor berfungsi untuk mengatur agar material yang diletakkan di atas belt seragam dalam jumlah. Ada beberapa macam feder yang umum digunakan antara lain apron, reciproting, rotary vane, dan rotary plow.
Pemanfaatan agregat dalam proyek konstruksi sangatlah luas. Salah satu pemanfaatan agregat adalah sebagai bahan dasar pembuat beton dan campuran aspal. Selain itu juga digunakan sebagai bahan pembuat jalan. Guna mendapatkan kerikil atau batuan pecah yang sesuai dengan ukuran yang diharapkan maka diperlukan suatu alat untuk memotong material. Alat pemecah batuan yang digunakan adalah crusher.

A. CRUSHER
Crusher berfungsi untuk memecahkan batuan alam menjadi ukuran yang lebih kecil sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Selain memisahkan batuan hasil pemecahan dengan menggunakan saringan atau screen. Crusher terdiri dari beberapa bagian yaitu crusher primer, crusher sekunder, crusher tersier.
Setelah batuan diledakan, batuan dimasukan kedalam crusher primer. Hasil dari crusher primer dimasukan kedalam sekunder untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Bila hasil crusher sekunder belum memenuhi spesifikasi yang ditetapkan maka batuan diolah kembali di crusher tersier dan seterusnya.
Tabel Jenis crusher beserta rasio reduksi

1. Jaw Crusher
Cara kerja alat ini adalah dengan menggerakan salah satu jepit, sementara jepit yang lain diam. Tenaga yang dihasilkan oleh bagian yang bergerak mampu menghasilakn tenaga untuk menghancurkan batuan yang keras. Kapasitas jaw crusher ditentukan oleh ukuran crusher.
2. Roll Crusher
Roll crusher dugunakan sebagai sekunder atau terseier setelah batuan elewati crusher tipe lain yang berfungsi sebagai crusher primer. Roll crusher terdiri dari single roll dan double roll. Single roll digunakan untuk memecahkan batuan yang lembap dan tidak menguntungkan jika digunakan untuk memecahkan batuan yang abrasive. Kapasitas roll crusher tergantung pada jenis batuan, ukuran crusher primer, ukuran batuan yang diinginkan, lebar roda dan kecepatan roda berputar.
B. CONVEYOR BELT Conveyor Belt merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan tanah, pasir, kerikil batuan pecah beton. Kapasitas pemindahan material oelh belt conveyor cukup tinggi karena material dipindahkan secara terus menerus dalam kecepatan yang relative tinggi. Bagian dari belt conveyor adalah belt atau ban berjalan, idler, unit pengendali, pulley, dan struktur penahan. Jika material yang akan dipindahkan memiliki jarak perpindahan yang relative pendek maka portable conveyor dapat digunakan.
1. Belt
Belt terdiri dari beberapa lembar (ply) bahan disatukan dengan semacam perekat. Jumlah lapisan dapat 4, 6, 7, 8 dan seterusnya. Sedangkan berat setiap lapisan adalah 28, 32, 36, 42 oz dst. Bagian permukaan belt ditutupi oleh karet yang berfungsi untuk menghindari terjadinya abrasi akibat gesekan material.
2. Kapasitas Belt
Berat material yang dipindahkan oleh belt conveyor ditentukan dengan menggunakan rumus berikut ini :
T = 60ASW/2000
dengan :
T = berat material yang dihitung dalam ton/ jam
A = potongan luas area material (sq ft)
S = kecepatan ban (ft/menit)
W = berat jenis material (lb/cft)
3. Idler
Idler merupakan alat yang menahan ban. Idler bagian atas yang menahan beban berbentuk trapesiun dimana sepertiga lebar dibagian tengah rata dengan kedua bagian sisi yang mirring, sedangkan idler bagian bawah berbentuk rata. Untuk menentukan daya angkut belt conveyor maka tenaga yang diperlukan oleh idler untuk bergerak perlu ditetapkan. Tenaga tersebut tergantung dari tipe dan ukuran idler, berat bagian yang berputar, berat ban, dan berat material.
4. Tenaga Untuk Menggerakan Belt
Sejumlah tenaga luar yang dibutuhkan untuk menggerakan sebuah conveyor belt. Tenaga itu diperlukan untuk menggerakan belt dalam keadaan kosong, memindahkan beban secara horizontal serta mengangkat atau menurunkan beban secara vertical. Ketiga tenaga tersebut kemudian dijumlahkan untuk mengetahui tenaga total yang dibutuhkan.
5. Feeder
Feeder yang diletakkan di bagian awal sebauh system conveyor berfungsi untuk mengatur agar material yang diletakkan di atas belt seragam dalam jumlah. Ada beberapa macam feder yang umum digunakan antara lain apron, reciproting, rotary vane, dan rotary plow.
Molen Pemroses Cor Semen
untaianberita
A
. Alat Pemroses Beton
Beton merupakan campuran dari semen, agregat dan air. Campuran semen dan air disebut pasta. Agregat yang digunakan secara umum untuk membuat beton adalah agregat halus dan agregat kasar. Campuran beton yang normal mengandung ¾ bagian agregat dan ¼ bagian pasta berdasarkan volume dengan rasio air-semen berkisar antara 0,4 – 0,7 berdasarkan berat.
Pekerjaan dalam pembuatan beton meliputi pengukuran berat setiap komponen beton, pencampuran bahan beton, pemindahan campuran beton, penempatan, konsolidasi, dan pengeringan. Sedangkan peralatan yang biasa dipakai dalam proses pembuatan beton sampai beton tersebut ditempatkan antara lain peralatan pencampur beton (concrete batching and mixing), peralatan pemindahan campuran beton, dan peralatan pengecoran.
1. Pencampuran Beton
Agregat pada batching plant diletakan pada staple material atau storage bin. Baik pada storage bin maupun pada staple material, agregat dipisahkan menjadi empat bagian yaitu butir kasar (split), butir menengah, butir halus dan pasir. Sedangkan semen diletakan pada suatu tabung disebut cement silo. Tabung ini tertutup rapat sehingga semen dalam keadaan tetap kering. Proses yang dilakukan dalam batching plant dapat secara manual, semi otomatis atau otomatis. Kapasitas dari batching plant biasanya tiga kali lebih besar dari kapasitas mixing plant.
2. Pemindahan Beton
Yang termasuk alat pengangkut beton adalah truck mixer, truck agitator, conveyor, pompa dan crane yang dilengkapi dengan bucket.
Pada saat beton tiba diproyek, beton tersebut docor kedalam cetakan. Untuk memudahkan pengecoran salah satunya dengan menggunakan pompa. Beton disalurkan kedalam cetakan dengan menggunakan pipa. Pipa ini dapat diletakan secara horizontal, vertical dan miring.
3. Pengecoran Beton
Setelah beton plastis dituangkan kedalam cetakan baik dengan menggunakan bucket maupun pipa, beton tersebut kemudian dikonsolidasikan dan diratakan. Cetakan harus bersih, disangga dengan baik dan kuat dan cetakan dilapisi semacam minyak untuk mencegah beton cepat mongering.
4. Perkerasan Beton
Perkerasan jalan yang menggunakan beton disebut perkerasan kaku (rigid pavement). Alat yang digunakan dalam pelaksanaan pengecoran beton untuk perkerasan antara lain Paving mixer, Concrete spreader, Tranveerse concrete finisher, Automatic curing machine, dan Slipform paver.
5. Produktivitas Mixer
Untuk mendapatkan kekuatan beton yang didiinginkan maka yang pertama dilakukan adalah menghitung volume masing-masing campuran bahan beton. Hasil dari penghitungan tersebut disebut dengan mix design.
B. Alat Pemroses Aspal
Aspal sebagian besar digunakan sebagai bahan perkerasan jalan. Jenis perkerasan yang mengunakan aspal disebut perkerasan lentur. Perkerasan aspal merupakan campuran dari aspal dan agregat (mix asphalt). Fungsi dari aspal pada campuran aspal adalah sebagai pengikat antar agregat, aspal yang masih padat disebut aspal cement. Campuran aspal agar kuat dan sesuai dengan yang diinginkan maka harus dihitung berdasarkan mix design, yaitu antara lain :
1). Stabil
2). Tahan lama
3). Kedap air
4). Fleksibel
5). Tidak menyebabkan selip
6). Tidak mengalami kelelahan badan
7). Mudah dikerjakan
Alat-alat berat yang berhubungan dengan pekerjaan pengaspalan adalah sebagai berikut :
1. Asphalt Plant
Merupakan tempat tempat campuran aspal diaduk, dipanaskan dan dicampur. Ada dua macam asphalt plant yang sering digunakan yaitu drum mix plant dan batch plant.
a. Batch Plant
Ada beberapa komponen dari batch plant, yaitu sebagai berikut :
1). Cold feed system atau cold bin
2). Drum dryer (drum pengering)
3). Hot elevator (elevator)
4). Screen (saringan)
5). Hot bin (penampungan)
6). Pugmil mixer
b. Drum Mix Plant
Setiap jenis agregat diukur beratnya pada cold feed system maka agregat tersebut dialirkan kedrum mixer yang berotasi secara vertical
c. Tempat Penyimpanan Aspal
Aspal yang digunakan untuk membuat campuran temperaturnya berkisar 150 derajat C.
d. Silo
Silo adalah silinder vertical yang digunakan sebagai tempat penyimpanan camuran aspal hasil dari mixer
2. Alat Untuk Perkerasan
Pada saat membuat perkerasan dengan aspal, alat yang dibutuhkan berbeda dengan pembuatan perkerasan beton. Selain truck alat yang digunakan untuk perkerasan aspal adalah :
a). Asphalt distributor (distributor aspal)
b). Asphalt paver atau asphalt finisher
c). compactor (pemadat)
A
. Alat Pemroses BetonBeton merupakan campuran dari semen, agregat dan air. Campuran semen dan air disebut pasta. Agregat yang digunakan secara umum untuk membuat beton adalah agregat halus dan agregat kasar. Campuran beton yang normal mengandung ¾ bagian agregat dan ¼ bagian pasta berdasarkan volume dengan rasio air-semen berkisar antara 0,4 – 0,7 berdasarkan berat.
Pekerjaan dalam pembuatan beton meliputi pengukuran berat setiap komponen beton, pencampuran bahan beton, pemindahan campuran beton, penempatan, konsolidasi, dan pengeringan. Sedangkan peralatan yang biasa dipakai dalam proses pembuatan beton sampai beton tersebut ditempatkan antara lain peralatan pencampur beton (concrete batching and mixing), peralatan pemindahan campuran beton, dan peralatan pengecoran.
1. Pencampuran Beton
Agregat pada batching plant diletakan pada staple material atau storage bin. Baik pada storage bin maupun pada staple material, agregat dipisahkan menjadi empat bagian yaitu butir kasar (split), butir menengah, butir halus dan pasir. Sedangkan semen diletakan pada suatu tabung disebut cement silo. Tabung ini tertutup rapat sehingga semen dalam keadaan tetap kering. Proses yang dilakukan dalam batching plant dapat secara manual, semi otomatis atau otomatis. Kapasitas dari batching plant biasanya tiga kali lebih besar dari kapasitas mixing plant.
2. Pemindahan Beton
Yang termasuk alat pengangkut beton adalah truck mixer, truck agitator, conveyor, pompa dan crane yang dilengkapi dengan bucket.
Pada saat beton tiba diproyek, beton tersebut docor kedalam cetakan. Untuk memudahkan pengecoran salah satunya dengan menggunakan pompa. Beton disalurkan kedalam cetakan dengan menggunakan pipa. Pipa ini dapat diletakan secara horizontal, vertical dan miring.
3. Pengecoran Beton
Setelah beton plastis dituangkan kedalam cetakan baik dengan menggunakan bucket maupun pipa, beton tersebut kemudian dikonsolidasikan dan diratakan. Cetakan harus bersih, disangga dengan baik dan kuat dan cetakan dilapisi semacam minyak untuk mencegah beton cepat mongering.
4. Perkerasan Beton
Perkerasan jalan yang menggunakan beton disebut perkerasan kaku (rigid pavement). Alat yang digunakan dalam pelaksanaan pengecoran beton untuk perkerasan antara lain Paving mixer, Concrete spreader, Tranveerse concrete finisher, Automatic curing machine, dan Slipform paver.
5. Produktivitas Mixer
Untuk mendapatkan kekuatan beton yang didiinginkan maka yang pertama dilakukan adalah menghitung volume masing-masing campuran bahan beton. Hasil dari penghitungan tersebut disebut dengan mix design.
B. Alat Pemroses Aspal
Aspal sebagian besar digunakan sebagai bahan perkerasan jalan. Jenis perkerasan yang mengunakan aspal disebut perkerasan lentur. Perkerasan aspal merupakan campuran dari aspal dan agregat (mix asphalt). Fungsi dari aspal pada campuran aspal adalah sebagai pengikat antar agregat, aspal yang masih padat disebut aspal cement. Campuran aspal agar kuat dan sesuai dengan yang diinginkan maka harus dihitung berdasarkan mix design, yaitu antara lain :
1). Stabil
2). Tahan lama
3). Kedap air
4). Fleksibel
5). Tidak menyebabkan selip
6). Tidak mengalami kelelahan badan
7). Mudah dikerjakan
Alat-alat berat yang berhubungan dengan pekerjaan pengaspalan adalah sebagai berikut :
1. Asphalt Plant
Merupakan tempat tempat campuran aspal diaduk, dipanaskan dan dicampur. Ada dua macam asphalt plant yang sering digunakan yaitu drum mix plant dan batch plant.
a. Batch Plant
Ada beberapa komponen dari batch plant, yaitu sebagai berikut :
1). Cold feed system atau cold bin
2). Drum dryer (drum pengering)
3). Hot elevator (elevator)
4). Screen (saringan)
5). Hot bin (penampungan)
6). Pugmil mixer
b. Drum Mix Plant
Setiap jenis agregat diukur beratnya pada cold feed system maka agregat tersebut dialirkan kedrum mixer yang berotasi secara vertical
c. Tempat Penyimpanan Aspal
Aspal yang digunakan untuk membuat campuran temperaturnya berkisar 150 derajat C.
d. Silo
Silo adalah silinder vertical yang digunakan sebagai tempat penyimpanan camuran aspal hasil dari mixer
2. Alat Untuk Perkerasan
Pada saat membuat perkerasan dengan aspal, alat yang dibutuhkan berbeda dengan pembuatan perkerasan beton. Selain truck alat yang digunakan untuk perkerasan aspal adalah :
a). Asphalt distributor (distributor aspal)
b). Asphalt paver atau asphalt finisher
c). compactor (pemadat)
CRANE
untaianberita
Jacking Tool the usual are used into construction project is crane. The working of crane is by lift significant that will movement, move in horizontal, then degrade significant on site desired. Some types crane that public weared is :
1. Crane whelled Crawler
This type have table top that can move 360 degree. With wheel crawler then crane this type can move into project location when conduct its job. When crane will be used other in project then crane are transported by using lowbed trailer. This transportation is conducted by unload boom becomes some parts to water down transportation execution.

2. Crane Truck
Crane this type of can migrate from one project to project other unassisted from
conveyer. However part of crane remain to be must unloaded to water down transfer. It's seem crawler crane, this truck crane can rotate 360 degree. to care of balance tool, truck crane haves foot/feet. In its operation foot/feet is referred must paired and wheel is lifted from land/ground until operation safety with boom that length will maintain.3. Crane With Limited Location
Crane diletakan this type above two unit of place aces both mobile tyre ace in simultaneous. With this excess then crane this type of can move spatially. Activator tool crane this type of is very big wheel that can improve tool ability in moving dilapangan and can move on highway with top speed 30 mph. Position of operator room crane usually at parts of hinged deck.
4. Tower Crane
Tower crane is tool that used by to lift significant in vertical and horizontal to something high place at limited motion room. Type this crane is divided base way crane are referred [as] stand up that is crane that can stand up free (free standing crane), crane above rel (rail mounted crane), crane that bound at building (tied-in tower crane) and crane climbs (climbing crane).

a. Part Crane
Part of crane is mast or main pillar,, jib and counter jib, counterweight, trolley and tie ropes. Mast is pillar vertical that stand up above base or elementary. Jib is horizontal pillar that length determined base desired range.
b. Criterion Election Tower Crane
Election tower crane as a means of to move significant is relied on field condition that is not wide, out of reach height by other tool. And not need tool movement. Type Election tower crane which to use must consider project situation, form of building structure, amenity operasiaonal either when installation or when unloading.
Whereas capacities election tower crane bases weight, dimension, and range power at heaviest burden, maximum height tool, tool assembling in project, tool weight that must arrested by its structure, room that available to tool, wide area that must reached tool and tool speed to move significant.
c. Capacities Tower Crane
Capacities tower crane are hung some factors. That must paid attention is that if significant that transported by crane exceed its capacities then will happen tumble. In consequence,, significant weight that transported better as follows :
1). For crawler wheeled machine is 75% from tool capacities
2). For wheeled machine rubber tyre is 85% from tool capacities
3). For machine that memilliki foot/feet is 85% from tool capacities
External Factor that must paid attention in determining tool capacities is
1). Strength angina terhadapa tool
2). Burden Oscillation when moved
3). Speed of significant evacuation
4). Machine Braking in its movement
Sumber :
Alat Berta untuk Proyek Konstruksi
Penulis : Susi Fatena R
ESCAVATOR
untaianberita

Tool digs for example back hoe, power shovel, or also known as front shovel, dragline, and clamshell. Backhoe and front shovel also called tool hidrolis because bucket that moved in hidrolis. Tool Election is hung from tool ability referred at one particular certain field condition. Its difference lay ins object that will dibagian front, however all tools are referred have equality with activator tool that is tyre wheel or crawler.
A. Digger Tool Hidrolis
Power shovel and backhoe those included in digger tool hidrolis haves bucket that paired in front its. Intended digger tool hidrolis is tool that work caused by pressure hidrolis at machine into its operation. Its activator Tool is tractor with tyre wheel or crawler.

1. Front Shovel
Front shovel is used to dig laid at significant above surface of tool place referred exists. This tool have ability to dig hard significant. If significant that dug have the character of soften then front shovel will find difficulties. Capacities bucket front shovel is hung from significant type. In consequence, there is factor correction into determines capacities bucket. (factor correction are referred as multiplied with capacities bucket.
Table Factor correction (BFF) for tool dig

Factor-factor that influence cycle of front activity shovel is capacities loads bucket, movement bucket with payload, cargo discharging and movement empty bucket. For fairish bucket between 2,3 till 3,8 m3s, time of front cycle shovel is following.
a). time loads : 7 till 9 second
b). rotary time with payload : 4 till 6 second
c). time unloads : 2 till 4 second
d). Time reruns : 4 till 5 second
Whereas front productivity shovel depend on significant type, dig height, rotation angle;corner, big tool transports, and others.

2. Backhoe
Operation backhoe generally for channel dig, tunnel; cutting or basement. Backhoe consist of activator tool that can be in the form of crawler or tyre, boom, strick and bucket. Wheeled Backhoe usually not used for dig but rather often used for other job. Capacities Election bucket backhoe must in accordance with job that will be conducted.
Backhoe same as front shovel where significant type influences didalam productivity calculation. Determination of cycle time backhoe is relied on capacities election bucket
B. Dragline
Dragline is tool digs that weared to dig laid at significant more tall from surface of tool place referred exists with further range from tools dig other. Elementary Tool from dragline is bucket that paired at boom. Length boom dragline same as crane however longer then stability dragline is must reckoned.
Dragline find difficultieses in controlling cargo discharging. In consequence, better tool of significant conveyor that weared to transport significant of dig result king sized dragline. Size of conveyor tool better 5 till 6 times the size of bucket dragline.
Productivity dragline depend on factor-faktor like significant, deepness penggalain, angle;corner swing, size bucket, length boom, capacities of conveyor tool, field condition and others. Tool Productivity is counted/calculated at condition of genuiness land/ground or bank condition.
C. Clamshell
Clamshell are used for free land/ground dig like sand, gravel, rock breaks, and others. Clamsheel lifts significant in vertical. Size bucket at clamshell vary between light till heavy. Light Bucket are generally used to move metarial, whereas bucket that used to dig. At bucket that generally paired tooth that help tool in diging significant.
Productivity Calculation clamshell have not yet standaritation, in consequence, then productivity equation for clamshell is ;
Productivity = V x 60/CT x BEF x efficiency
In general cycle time clamshell is got from estimate result base experience.
Sumber :
Alat Berat untuk Proyek Konstruksi

Tool digs for example back hoe, power shovel, or also known as front shovel, dragline, and clamshell. Backhoe and front shovel also called tool hidrolis because bucket that moved in hidrolis. Tool Election is hung from tool ability referred at one particular certain field condition. Its difference lay ins object that will dibagian front, however all tools are referred have equality with activator tool that is tyre wheel or crawler.
A. Digger Tool Hidrolis
Power shovel and backhoe those included in digger tool hidrolis haves bucket that paired in front its. Intended digger tool hidrolis is tool that work caused by pressure hidrolis at machine into its operation. Its activator Tool is tractor with tyre wheel or crawler.

1. Front Shovel
Front shovel is used to dig laid at significant above surface of tool place referred exists. This tool have ability to dig hard significant. If significant that dug have the character of soften then front shovel will find difficulties. Capacities bucket front shovel is hung from significant type. In consequence, there is factor correction into determines capacities bucket. (factor correction are referred as multiplied with capacities bucket.
Table Factor correction (BFF) for tool dig

Factor-factor that influence cycle of front activity shovel is capacities loads bucket, movement bucket with payload, cargo discharging and movement empty bucket. For fairish bucket between 2,3 till 3,8 m3s, time of front cycle shovel is following.
a). time loads : 7 till 9 second
b). rotary time with payload : 4 till 6 second
c). time unloads : 2 till 4 second
d). Time reruns : 4 till 5 second
Whereas front productivity shovel depend on significant type, dig height, rotation angle;corner, big tool transports, and others.

2. Backhoe
Operation backhoe generally for channel dig, tunnel; cutting or basement. Backhoe consist of activator tool that can be in the form of crawler or tyre, boom, strick and bucket. Wheeled Backhoe usually not used for dig but rather often used for other job. Capacities Election bucket backhoe must in accordance with job that will be conducted.
Backhoe same as front shovel where significant type influences didalam productivity calculation. Determination of cycle time backhoe is relied on capacities election bucket
B. Dragline
Dragline is tool digs that weared to dig laid at significant more tall from surface of tool place referred exists with further range from tools dig other. Elementary Tool from dragline is bucket that paired at boom. Length boom dragline same as crane however longer then stability dragline is must reckoned.
Dragline find difficultieses in controlling cargo discharging. In consequence, better tool of significant conveyor that weared to transport significant of dig result king sized dragline. Size of conveyor tool better 5 till 6 times the size of bucket dragline.
Productivity dragline depend on factor-faktor like significant, deepness penggalain, angle;corner swing, size bucket, length boom, capacities of conveyor tool, field condition and others. Tool Productivity is counted/calculated at condition of genuiness land/ground or bank condition.
C. Clamshell
Clamshell are used for free land/ground dig like sand, gravel, rock breaks, and others. Clamsheel lifts significant in vertical. Size bucket at clamshell vary between light till heavy. Light Bucket are generally used to move metarial, whereas bucket that used to dig. At bucket that generally paired tooth that help tool in diging significant.
Productivity Calculation clamshell have not yet standaritation, in consequence, then productivity equation for clamshell is ;
Productivity = V x 60/CT x BEF x efficiency
In general cycle time clamshell is got from estimate result base experience.
Sumber :
Alat Berat untuk Proyek Konstruksi
SCRAPER TRACTOR
untaianberita
SCRAPER TRACTOR

Scraper is heavy equipment that to dredge up, transport and scatter land/ground of dredging result in endues. Scraper can be implementational transportation to apart that relative far (2000 m) at plain with activator tyre wheel. Election scraper for this job depend on :
1). Significant Characteristic operated
2). Panjng travelled distance
3). Street Condition
4). Networked Tool
Scraper are classified base its type, scraper pulled (tower scraper), scraper motorizes (motorized scraper), and scraper that content by it self (self loading scaper). Towed scraper are generally pulled crawler tractor with machine strength 300 hps or more. Scraper this type of can accomodate significant 8 – 30 m3s.

A. Operation Scraper
Scraper consist of some parts for example bowl, appron, and tail gate. Bowl is payload receptacle lay betweens back tyre. Frontage bowl can move downwards to operate for dredging and cargo discharging. At front side part bowl ranges from 3 till 38 m3s
Appron is wall bowl frontage that can be lifted when dredging and unloading. Appron can close returned when significant transportation. Some models scraper have appron that can transport significant one-third from significant in bowl.
Tail gate or ejector is back wall bowl. When this loading and transportation of wall significant motion less. Nevertheless when ejector cargo discharging moves forward to push significant exits from bowl.
Tool operation is used with two ways :
1). Push-loaded. Tool are weared only at dredging moment and admission filling.
2). Push pull. Two units scraper are operated by this way its second each other help didalam dredging. Scraper is behind pushed scraper didepannya when dredging and interesting scraper didepannya scraper that behind when dredging.
B. Productivity Scraper
Productivity sraper depend on significant type, energy to transport, street condition, speed lat, tool efficiency. Significant Volume that will be moved will influence capacities scraper selected. Whereas transportation amount per hour depend on cycle time scraper.
Cycle Time merupan addition from time load (LT), transportation time (HT), Cargo Discharging Time (DT), Time Return (RT), and time queues up (ST). in other hand there is rotary time or turning time (TT) and acceleration time, deceleration and braking or accelerating, decelerating and braking time (ADBT). Because LT, DT, ST, TT and ADBT consistence then times are referred categorized as time fixed (FT) see table 1. until formula that weared is
FT = LT + DT + ST + TT + ADBT
Tables 1. Value FT (minute)

Note : 1 = good condition
2 = condition
3 = ugly condition
C. Pusher (Impeller Tool)
Tool Usage or pusher at scraper in its operation can boost up tool productivity. Cycle Time pusher is time that required to load significant into scraper added time that required pusher to move from one scraper to other scraper. Cycle Time (in minute) looked for by using formula :
CTp = 140% x LTs + 0,25
Amount scraper that can be helped by a pusher is :
N = CTs/CTp
D. Improvement Productivity Scraper
Some implementable way to increase product scraper in its operation for example :
1. First by scarify that will be loaded into bowl. That is time load will decrease. Penetration Deepness from riper should be able to be big from penetration deepness cutting edge.
2. By wett land/ground that will be transported. Conducted before loaded into bowl
3. Load significant at downhill condition also is one of way to increase product.
SCRAPER TRACTOR

Scraper is heavy equipment that to dredge up, transport and scatter land/ground of dredging result in endues. Scraper can be implementational transportation to apart that relative far (2000 m) at plain with activator tyre wheel. Election scraper for this job depend on :
1). Significant Characteristic operated
2). Panjng travelled distance
3). Street Condition
4). Networked Tool
Scraper are classified base its type, scraper pulled (tower scraper), scraper motorizes (motorized scraper), and scraper that content by it self (self loading scaper). Towed scraper are generally pulled crawler tractor with machine strength 300 hps or more. Scraper this type of can accomodate significant 8 – 30 m3s.

A. Operation Scraper
Scraper consist of some parts for example bowl, appron, and tail gate. Bowl is payload receptacle lay betweens back tyre. Frontage bowl can move downwards to operate for dredging and cargo discharging. At front side part bowl ranges from 3 till 38 m3s
Appron is wall bowl frontage that can be lifted when dredging and unloading. Appron can close returned when significant transportation. Some models scraper have appron that can transport significant one-third from significant in bowl.
Tail gate or ejector is back wall bowl. When this loading and transportation of wall significant motion less. Nevertheless when ejector cargo discharging moves forward to push significant exits from bowl.
Tool operation is used with two ways :
1). Push-loaded. Tool are weared only at dredging moment and admission filling.
2). Push pull. Two units scraper are operated by this way its second each other help didalam dredging. Scraper is behind pushed scraper didepannya when dredging and interesting scraper didepannya scraper that behind when dredging.
B. Productivity Scraper
Productivity sraper depend on significant type, energy to transport, street condition, speed lat, tool efficiency. Significant Volume that will be moved will influence capacities scraper selected. Whereas transportation amount per hour depend on cycle time scraper.
Cycle Time merupan addition from time load (LT), transportation time (HT), Cargo Discharging Time (DT), Time Return (RT), and time queues up (ST). in other hand there is rotary time or turning time (TT) and acceleration time, deceleration and braking or accelerating, decelerating and braking time (ADBT). Because LT, DT, ST, TT and ADBT consistence then times are referred categorized as time fixed (FT) see table 1. until formula that weared is
FT = LT + DT + ST + TT + ADBT
Tables 1. Value FT (minute)

Note : 1 = good condition
2 = condition
3 = ugly condition
C. Pusher (Impeller Tool)
Tool Usage or pusher at scraper in its operation can boost up tool productivity. Cycle Time pusher is time that required to load significant into scraper added time that required pusher to move from one scraper to other scraper. Cycle Time (in minute) looked for by using formula :
CTp = 140% x LTs + 0,25
Amount scraper that can be helped by a pusher is :
N = CTs/CTp
D. Improvement Productivity Scraper
Some implementable way to increase product scraper in its operation for example :
1. First by scarify that will be loaded into bowl. That is time load will decrease. Penetration Deepness from riper should be able to be big from penetration deepness cutting edge.
2. By wett land/ground that will be transported. Conducted before loaded into bowl
3. Load significant at downhill condition also is one of way to increase product.
Crane - Alat Angkut/Angkat Barang Berat di Proyek
untaianberita
Alat pengangkat yang biasa digunakan didalam proyek konstruksi adalah crane. Cara kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipoindahkan, memindahkan secara horizontal, kemudian menurunkan material ditempat yang diinginkan. Beberapa tipe crane yang umum dipakai adalah :

1. Crane Beroda Crawler
Tipe ini mempunyai bagian atas yang dapat bergerak 3600. dengan roda crawler maka crane tipe ini dapat bergerak didalam lokasi proyek saat melakukan pekerjaannya. Pada saat crane akan digunakan diproyek lain maka crane diangkut dengan menggunakan lowbed trailer. Pengangkutan ini dilakukan dengan membongkar boom menjadi beberapa bagian untuk mempermudah pelaksanaan pengangkutan.
2. Truck Crane
Crane jenis ini dapat berpindah tempat dari satu proyek ke proyek lainnya tanpa bantuan dari alat pengangkutan. Akan tetapi bagian dari crane tetap harus dibongkar untuk mempermudah perpindahan. Seperti halnya crawler crane, truck crane ini dapat berputar 360 derajat. untuk menjaga keseinbangan alat, truck crane memiliki kaki. Di dalam pengoperasiannya kaki tersebut harus dipasangkan dan roda diangkat dari tanah sehingga keselamatan pengoperasian dengan boom yang panjang akan terjaga.
3. Crane untuk Lokasi Terbatas
Crane tipe ini diletakan di atas dua buah as tempat kedua as ban bergerak secara simultan. Dengan kelebihan ini maka crane jenis ini dapat bergerak dengan leluasa. Alat penggerak crane jenis ini adalah roda yang sangat besar yang dapat meningkatkan kemampuan alat dalam bergerak dilapangan dan dapat bergerak di jalan raya dengan kecepatan maksimum 30 mph. Letak ruang operator crane biasanya pada bagian-bagian deck yang dapat berputar.
4. Tower Crane
Tower crane merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat material secara vertical dan horizontal kesuatu tempat yang tinggi pada ruang gerak yang terbatas. Tipe crane ini dibagi berdasarkan cara crane tersebut berdiri yaitu crane yang dapat berdiri bebas (free standing crane), crane diatas rel (rail mounted crane), crane yang ditambatkan pada bangunan (tied-in tower crane) dan crane panjat (climbing crane).
a. Bagian Crane
Bagian dari crane adalah mast atau tiang utama,, jib dan counter jib, counterweight, trolley dan tie ropes. Mast merupakan tiang vertical yang berdiri di atas base atau dasar. Jib merupakan tiang horizontal yang panjangnya ditentukan berdasarkan jangkauan yang diinginkan.
b. Kriterian pemilihan Tower Crane
Pemilihan tower crane sebagai alat untuk memindahkan material didasarkan pada kondisi lapangan yang tidak luas, ketinggian yang tidak terjangkau oleh alat lain. Dan tidak dibutuhkanya pergerakan alat. Pemilihan jenis tower crane yang akan dipakai harus mempertimbangkan situasi proyek, bentuk struktur bangunan, kemudahan operasiaonal baik pada saat pemasangan maupun pada saat pembongkaran.
Sedangkan pemilihan kapasitas tower crane berdasarkan berat, dimensi, dan daya jangkau pada beban terberat, ketinggian maksimum alat, perakitan alat diproyek, berat alat yang harus ditahan oleh strukturnya, ruang yang tersedia untuk alat, luas area yang harus dijangkau alat dan kecepatan alat untuk memindahkan material.
c. Kapasitas Tower Crane
Kapsitas tower crane tergantung beberapa factor. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika material yang diangkut oleh crane melebihi kapasitasnya maka akan terjadi jungkir. Oleh karena itu, berat material yang diangkut sebaiknya sebagai berikut :
1). Untuk mesin beroda crawler adalah 75% dari kapasitas alat
2). Untuk mesin beroda ban karet adalah 85% dari kapasitas alat
3). Untuk mesin yang memilliki kaki adalah 85% dari kapasitas alat
Factor luar yang harus diperhatikan dalam menentukan kapasitas alat adalah
1). Kekuatan angina terhadapa alat
2). Ayunan beban pada saat dipindahkan
3). Kecepatan pemindahan material
4). Pengereman mesin dalam pergerakannya
Alat pengangkat yang biasa digunakan didalam proyek konstruksi adalah crane. Cara kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipoindahkan, memindahkan secara horizontal, kemudian menurunkan material ditempat yang diinginkan. Beberapa tipe crane yang umum dipakai adalah :

1. Crane Beroda Crawler
Tipe ini mempunyai bagian atas yang dapat bergerak 3600. dengan roda crawler maka crane tipe ini dapat bergerak didalam lokasi proyek saat melakukan pekerjaannya. Pada saat crane akan digunakan diproyek lain maka crane diangkut dengan menggunakan lowbed trailer. Pengangkutan ini dilakukan dengan membongkar boom menjadi beberapa bagian untuk mempermudah pelaksanaan pengangkutan.
2. Truck Crane
Crane jenis ini dapat berpindah tempat dari satu proyek ke proyek lainnya tanpa bantuan dari alat pengangkutan. Akan tetapi bagian dari crane tetap harus dibongkar untuk mempermudah perpindahan. Seperti halnya crawler crane, truck crane ini dapat berputar 360 derajat. untuk menjaga keseinbangan alat, truck crane memiliki kaki. Di dalam pengoperasiannya kaki tersebut harus dipasangkan dan roda diangkat dari tanah sehingga keselamatan pengoperasian dengan boom yang panjang akan terjaga.
3. Crane untuk Lokasi Terbatas
Crane tipe ini diletakan di atas dua buah as tempat kedua as ban bergerak secara simultan. Dengan kelebihan ini maka crane jenis ini dapat bergerak dengan leluasa. Alat penggerak crane jenis ini adalah roda yang sangat besar yang dapat meningkatkan kemampuan alat dalam bergerak dilapangan dan dapat bergerak di jalan raya dengan kecepatan maksimum 30 mph. Letak ruang operator crane biasanya pada bagian-bagian deck yang dapat berputar.
4. Tower Crane
Tower crane merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat material secara vertical dan horizontal kesuatu tempat yang tinggi pada ruang gerak yang terbatas. Tipe crane ini dibagi berdasarkan cara crane tersebut berdiri yaitu crane yang dapat berdiri bebas (free standing crane), crane diatas rel (rail mounted crane), crane yang ditambatkan pada bangunan (tied-in tower crane) dan crane panjat (climbing crane).
a. Bagian Crane
Bagian dari crane adalah mast atau tiang utama,, jib dan counter jib, counterweight, trolley dan tie ropes. Mast merupakan tiang vertical yang berdiri di atas base atau dasar. Jib merupakan tiang horizontal yang panjangnya ditentukan berdasarkan jangkauan yang diinginkan.
b. Kriterian pemilihan Tower Crane
Pemilihan tower crane sebagai alat untuk memindahkan material didasarkan pada kondisi lapangan yang tidak luas, ketinggian yang tidak terjangkau oleh alat lain. Dan tidak dibutuhkanya pergerakan alat. Pemilihan jenis tower crane yang akan dipakai harus mempertimbangkan situasi proyek, bentuk struktur bangunan, kemudahan operasiaonal baik pada saat pemasangan maupun pada saat pembongkaran.
Sedangkan pemilihan kapasitas tower crane berdasarkan berat, dimensi, dan daya jangkau pada beban terberat, ketinggian maksimum alat, perakitan alat diproyek, berat alat yang harus ditahan oleh strukturnya, ruang yang tersedia untuk alat, luas area yang harus dijangkau alat dan kecepatan alat untuk memindahkan material.
c. Kapasitas Tower Crane
Kapsitas tower crane tergantung beberapa factor. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika material yang diangkut oleh crane melebihi kapasitasnya maka akan terjadi jungkir. Oleh karena itu, berat material yang diangkut sebaiknya sebagai berikut :
1). Untuk mesin beroda crawler adalah 75% dari kapasitas alat
2). Untuk mesin beroda ban karet adalah 85% dari kapasitas alat
3). Untuk mesin yang memilliki kaki adalah 85% dari kapasitas alat
Factor luar yang harus diperhatikan dalam menentukan kapasitas alat adalah
1). Kekuatan angina terhadapa alat
2). Ayunan beban pada saat dipindahkan
3). Kecepatan pemindahan material
4). Pengereman mesin dalam pergerakannya
Ranah K3, singkatannya
untaianberita
K3 (Kesehatan dan Keamanan Kerja)

Seminggu yang lalu, saya mengikuti seminar sehari tentang SHE (Safety, Healty and Environment) atau bahasa sederhananya adalah K3 (Kesehatan dan Keamanan Kerja). Sebenarnya jika anda baca buku atau referensi yang lain K3 singkatan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Mengapa K3 itu penting dalam proyek konstruksi?? Karena memang proyek konstruksi pada umumnya merupakan kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya. Hal tersebut meyebabkan industri konstruksi mempunyai catatan yang buruk dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja. Situasi dalam proyek mencerminkan karakter yang keras dan kegiatannya terlihat sangat kompleks dan sulit dilaksanakan sehingga dibutuhkan stamina yang prima dari pekerja yang melaksanakannya.
Sebenarnya masalah SHE atau K3 tidak hanya pada masalah proyek konstruksi saja? Di lingkungan kita sehari-hari saja banyak sekali potensi bahaya yang tidak sedikit mengancam hidup kita. Misalnya saja, di ruangan ber AC tetap merokok padahal yang bersangkutan tahu bahwa ruangan ber AC tidak boleh merokok, yang terkena dampaknya justru yang tidak merokok (perokok pasif). Mengendarai kendaraan sembari telpon, sms, padahal tidak penting-penting amat untuk dijawab, dibalas dan tidak sedikit pula kecelakaan yang diakibatkan masalah ini. Stop kontak yang sudah renggang, sehingga tidak bisa kokoh atau dengan kata lain mudah goyang. Hal tersebut, bila dibiarkan mengakibatkan konsleting listrik yang bisa jadi menimbulkan kebakaran. Beberapa contoh kecil seperti itu terkadang diabaikan oleh kita. Meskipun sederhana, namun dampaknya sangat besar. Dibutuhkan kesadaran dan kepekaan untuk melihat dan memahami masalah ini. Perlu latihan untuk membangun kesadaran dalam menangkap fenomena potensi bahaya di lingkungan kita sendiri.
Tak dipungkiri memang lokasi proyek merupakan salah satu lingkungan kerja yang mengandung resiko cukup besar. Tim manajemen sebagai pihak yang bertanggung jawab selama proses pembangunan berlangsung harus mendukung dan mengupayakan program-program yang dapat menjamin agar tidak terjadi/ meminimalkan kecelakaan kerja atau tindakan preventif.
Hubungan antar pihak yang berkewajiban memperhatikan masalah K3 dalah kontraktor utama dengan subkotraktor. Kewajiban kontraktor dan rekan kerjanya adalah mengasuransikan pekerjanya selama masa pembangunan berlangsung. Pada rentang waktu pelaksanaan pembangunan, kontraktor utama maupun subkontraktor sudah selayaknya tidak mengizinkan pekerjanya untuk beraktivitas bila terjadi hal-hal berikut :
1. Tidak mematuhi peraturan keselamatan dan kesehatan kerja
2. Tidak menggunakan peralatan pelindung diri selama bekerja
3. Mengizinkan pekerja menggunakan peralatan yang tidak nyaman
Secara umum, setiap pekerja konstruksi harus mematuhi dan menggunakan peralatan perlindungan dalam bekerja sesuai peraturan keselamatan dan kesehatan kerja dalam setiap kotrak kerja yang dibuatnya. Lantas apa yang dapat dilakukan, seandainya sudah terjadi kecelakaan ?? Sebelum saya membahas pertanyaan ini, ada baiknya kita teliti dulu faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja antara lain :

1. Faktor pekerja itu sendiri
2. Faktor metode konstruksi
3. Peralatan
4. Manajemen
Reputasi sebuah perusahaan konstruksi salah satunya ditentukan oleh catatan histories pengelolaan pekerja di proyek, terutama seberapa sering terjadinya kecelakaan kerja di proyek yang sedang dikelolanya. Jika semakin sering, tentunya berakibat kurang baik bagi tim proyek khususnya dan perusahaan. Pengaruhnya terhadap kemungkinannya untuk memperoleh proyek pada masa-masa mendatang dan apabila sebuah perusahaan tidak berhasil mendapatkan proyek maka eksistensi perusahaan tersebut perlu ditanyakan karena sumber pendapatan perusahaan konstruksi sepenuhnya berasal dari jumlah proyek yang berhasil diperolehnya.
Kesuksesan program K3 tidak lepas dari peran berbagai pihak yang saling terlibat, berinteraksi dan bekerja sama. Hal ini sudah seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi, yang dilakukan oleh tim proyek dan seluruh manajemen dari berbagai pihak yang terkait didalamnya. Masing-masing pihak mempunyai tanggung jawab bersama yang saling mendukung untuk keberhasilan pelaksanaan proyek konstruksi yang ditandai dengan evaluasi positif dari pelaksanaan program K3 ini.https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzAiEblWewYWF7yyL6XT6vIdyew1O7J5q0qXhZ5A0_iVDTQCyUfx0CXwrySy9leuUaYorsGoYIPzJamS57655HUa_nWgNxYcbFdcs9pJZVNINCshfNafe3-Uy0wbCqvJ4WSUGC3WEXCHY/s320/safety7a.jpg
“Mencegah lebih baik daripada mengobati” atau tindakan preventif jauh lebih baik daripada sudah kejadian. Dan saya kira cost yang dikeluarkan untuk tindakan preventif lebih murah daripada cost kalo memang sudah terjadi. Berikutnya akan saya bahas mengenai peralatan standar K3 di proyek, jadi stay tune on my blog.

Sebelum membaca masalah peralatan standar K3, silakan jelajahi blog ini untuk mencari artikel-artikel yang telah saya tulis sebelumnya, mudah-mudahan bermanfaat. See u
K3 (Kesehatan dan Keamanan Kerja)

Seminggu yang lalu, saya mengikuti seminar sehari tentang SHE (Safety, Healty and Environment) atau bahasa sederhananya adalah K3 (Kesehatan dan Keamanan Kerja). Sebenarnya jika anda baca buku atau referensi yang lain K3 singkatan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Mengapa K3 itu penting dalam proyek konstruksi?? Karena memang proyek konstruksi pada umumnya merupakan kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya. Hal tersebut meyebabkan industri konstruksi mempunyai catatan yang buruk dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja. Situasi dalam proyek mencerminkan karakter yang keras dan kegiatannya terlihat sangat kompleks dan sulit dilaksanakan sehingga dibutuhkan stamina yang prima dari pekerja yang melaksanakannya.
Sebenarnya masalah SHE atau K3 tidak hanya pada masalah proyek konstruksi saja? Di lingkungan kita sehari-hari saja banyak sekali potensi bahaya yang tidak sedikit mengancam hidup kita. Misalnya saja, di ruangan ber AC tetap merokok padahal yang bersangkutan tahu bahwa ruangan ber AC tidak boleh merokok, yang terkena dampaknya justru yang tidak merokok (perokok pasif). Mengendarai kendaraan sembari telpon, sms, padahal tidak penting-penting amat untuk dijawab, dibalas dan tidak sedikit pula kecelakaan yang diakibatkan masalah ini. Stop kontak yang sudah renggang, sehingga tidak bisa kokoh atau dengan kata lain mudah goyang. Hal tersebut, bila dibiarkan mengakibatkan konsleting listrik yang bisa jadi menimbulkan kebakaran. Beberapa contoh kecil seperti itu terkadang diabaikan oleh kita. Meskipun sederhana, namun dampaknya sangat besar. Dibutuhkan kesadaran dan kepekaan untuk melihat dan memahami masalah ini. Perlu latihan untuk membangun kesadaran dalam menangkap fenomena potensi bahaya di lingkungan kita sendiri.
Tak dipungkiri memang lokasi proyek merupakan salah satu lingkungan kerja yang mengandung resiko cukup besar. Tim manajemen sebagai pihak yang bertanggung jawab selama proses pembangunan berlangsung harus mendukung dan mengupayakan program-program yang dapat menjamin agar tidak terjadi/ meminimalkan kecelakaan kerja atau tindakan preventif.
Hubungan antar pihak yang berkewajiban memperhatikan masalah K3 dalah kontraktor utama dengan subkotraktor. Kewajiban kontraktor dan rekan kerjanya adalah mengasuransikan pekerjanya selama masa pembangunan berlangsung. Pada rentang waktu pelaksanaan pembangunan, kontraktor utama maupun subkontraktor sudah selayaknya tidak mengizinkan pekerjanya untuk beraktivitas bila terjadi hal-hal berikut :
1. Tidak mematuhi peraturan keselamatan dan kesehatan kerja
2. Tidak menggunakan peralatan pelindung diri selama bekerja
3. Mengizinkan pekerja menggunakan peralatan yang tidak nyaman
Secara umum, setiap pekerja konstruksi harus mematuhi dan menggunakan peralatan perlindungan dalam bekerja sesuai peraturan keselamatan dan kesehatan kerja dalam setiap kotrak kerja yang dibuatnya. Lantas apa yang dapat dilakukan, seandainya sudah terjadi kecelakaan ?? Sebelum saya membahas pertanyaan ini, ada baiknya kita teliti dulu faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja antara lain :

1. Faktor pekerja itu sendiri
2. Faktor metode konstruksi
3. Peralatan
4. Manajemen
Reputasi sebuah perusahaan konstruksi salah satunya ditentukan oleh catatan histories pengelolaan pekerja di proyek, terutama seberapa sering terjadinya kecelakaan kerja di proyek yang sedang dikelolanya. Jika semakin sering, tentunya berakibat kurang baik bagi tim proyek khususnya dan perusahaan. Pengaruhnya terhadap kemungkinannya untuk memperoleh proyek pada masa-masa mendatang dan apabila sebuah perusahaan tidak berhasil mendapatkan proyek maka eksistensi perusahaan tersebut perlu ditanyakan karena sumber pendapatan perusahaan konstruksi sepenuhnya berasal dari jumlah proyek yang berhasil diperolehnya.
Kesuksesan program K3 tidak lepas dari peran berbagai pihak yang saling terlibat, berinteraksi dan bekerja sama. Hal ini sudah seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi, yang dilakukan oleh tim proyek dan seluruh manajemen dari berbagai pihak yang terkait didalamnya. Masing-masing pihak mempunyai tanggung jawab bersama yang saling mendukung untuk keberhasilan pelaksanaan proyek konstruksi yang ditandai dengan evaluasi positif dari pelaksanaan program K3 ini.https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzAiEblWewYWF7yyL6XT6vIdyew1O7J5q0qXhZ5A0_iVDTQCyUfx0CXwrySy9leuUaYorsGoYIPzJamS57655HUa_nWgNxYcbFdcs9pJZVNINCshfNafe3-Uy0wbCqvJ4WSUGC3WEXCHY/s320/safety7a.jpg
“Mencegah lebih baik daripada mengobati” atau tindakan preventif jauh lebih baik daripada sudah kejadian. Dan saya kira cost yang dikeluarkan untuk tindakan preventif lebih murah daripada cost kalo memang sudah terjadi. Berikutnya akan saya bahas mengenai peralatan standar K3 di proyek, jadi stay tune on my blog.

Sebelum membaca masalah peralatan standar K3, silakan jelajahi blog ini untuk mencari artikel-artikel yang telah saya tulis sebelumnya, mudah-mudahan bermanfaat. See u
Subscribe to:
Posts (Atom)