YOU CAN GET ALL

Saturday, 21 August 2010

Hidup di dunia seperti penyelam

SEMARANG - Manusia adalah khalifah ciptaan Allah yang paling istimewa dan ditempatkan sebagai khalifah (penguasa) di atas bumi. Atas keistimewaan ini, segala nikmat yang ada di bumi dan langit dilimpahkan oleh-Nya. Namun manusia mesti menggunakan dua kekuatan akal dan syariah dalam mengelola dan memanfaatkan nikmat Allah tersebut.

Petikan kalimat tersebut merupakan salah satu isi tausiyah yang diberikan oleh Prof Dr H Muchoyyar MA, saat tarawih bersama di kediaman Komisaris Utama Suara Merdeka Ir H Budi Santoso Jl Sultan Agung 62 Semarang, semalam. Guru Besar Ilmu Tafsir Alquran IAIN Walisongo tersebut berseru bahwa atas segala nikmat yang diberikan manusia, terkadang mereka lupa akan tujuan awal hidup di dunia.

"Manusia diciptakan dengan segala nikmat, potensi serta segala keistimewaan dengan gratis. Diciptakannya manusia dengan segala keistimewaan ini dengan tujuan mereka harus berbakti, beribadah kepada penguasa alam," ujar Muchoyar.

Menurut dia, manusia hidup di dunia ini seperti seorang penyelam di tengah lautan. Tugas utama penyelam ini adalah mencari tiram di dasar lautan sebanyaksebanyaknya. Karena tugas ini, pimpinan penyelam membekali mereka dengan tabung oksigen dan peralatan menyelam lainnya.

Tabung udara yang difasilitaskan pada penyelam itu ada batasnya, sehingga penyelam tersebut harus sekuat tenaga untuk mencapai tujuan. Namun kadang kala, penyelam itu tak langsung menuju mencari tujuan yang diperintahkan namun tergoda dengan isi laut yang sangat indah.

"Hingga akhirnya ketika udara yang dibawanya hampir habis, penyelam baru ingat kalau dia diperintahkan untuk mencari tiram. Itu sama seperti manusia, udara adalah umur, dan manusia sering tergoda dengan keindahan dunia, dan melupakan tujuan awal mereka diciptakan yakni untuk berbakti pada tuhan," ceritanya. Muchoyar mengingatkan bahwa hidup didunia itu sangat persis dengan kehidupan penyelam tiram di tengah lautan.

Karena menurut dia, kehidupan didunia ini adalah pra kualifikasi untuk menentukan posisi manusia nanti kelak di hari penentuan. Oleh karena itu menurut dia, momentum ramadlan ini merupakan saran yang tepat untuk kembali merefresh ingatan dan iman kita untuk menuju tujuan awal manusia diciptakan.

Pakar Alquran itu menyebut, lebah adalah teladan yang terbaik. Ia sangat disiplin dalam pembagian kerja. Nabi Muhammad sendiri mendeskripsikan sikap lebah dengan tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang bermanfaat, dan jika terjatuh menimpa sesuatu tidak merusak. mun-yan

No comments:

Post a Comment