YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Tak Sabar tunggu PELAMINAN


– Sebagai calon pengantin, agaknya Pawidi, 25, dalam benaknya selalu terbayang urusan ranjang. Namun untuk menunggu hari H-nya, tukang sate dari Klaten ini tak sabar lagi. Kelamaan tiba di pelaminan, Pawidi nekad mengajak sejumlah ABG untuk hubungan kelamin. Walhasil dia malah jadi urusan polisi.

Menjadi raja sehari alias pengantin, memang sangat mengasyikkan. Saking asyiknya, banyak pula lelaki yang hobi jadi pengantin. Di sini sudah punya istri, diam-diam nikah lagi di tempat lain. Walhasil, dia jadi demen nangkring sana nangkring sini. Tapi itu pun kadang tak membuatnya puas. Banyak pula lelaki yang kemudian cari slundingan (menu tambahan) dengan “jajan” di arena pelacuran. Akibatnya, dari hobi menjadi raja sehari itu akhirnya malah terkena ……rajasinga!

Pawidi yang tukang sate di daerah Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten (Jateng) juga sedang bersiap-siap menjadi raja sehari. Calon istrinya jauh di sana, di kampung Mintaragan, Tegal. Masih tiga minggu lagi hari H itu tiba, tapi rupanya program “mbelah duren” berbasis Window SP itu selalu menggoda benaknya. Andaikan dunia berputar bisa dipercepat lagi, ingin rasanya Pawidi segera tiba di hari yang berbahagia itu. “Saya terima nikahnya si Anu dengan maskawin sekian, sah…..!” kata Pawidi selalu seakan sedang gladi resik.

Klaten – Tegal bukan jarak yang dekat. Untuk bisa ketemu doi, setidaknya diperlukan waktu 7 jam. Naik bis dulu Klaten – Kartosura, lalu disambung Kartosura – Semarang. Jika mau cepat, dari Semarang bisa naik bis Patas “Coyo” Semarang – Cirebon. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Gara-gara rasa kangen yang mendesak ini, hati Pawidi menjadi risau. “Semalam hatiku risau, mengenang dikau kasihku sayang, tak sabar kumenanti…..,” kata Lilis Suryani dalam lagunya tahun 1960-an. Dan seperti itulah kondisi Pawidi kini.

Sambil terus mendorong gerobak satenya mencari pembeli, pikiran Pawidi selalu diganggu oleh hari H yang menggairahkan itu. Tak sabar menunggu, pikirannya mulai oleng ketika melihat pembeli satenya seorang gadis ABG. Akhirnya si gadis digiring ke sebuah rumah kosong yang sangat dikenalnya. Sekali libas, keperawanan ABG itu terhempas. Dan ternyata, pengalaman itu memang sangat mengasyikkan. Bak orang makan keenakan, Pawidi jadi ketagihan dan njaluk tunggale (nambah lagi).

Sukses dengan kejadian 15 Maret itu, lain hari lagi tukang sate ini mencari obyekan serupa. Saat ketemu Sarmi, 16, ABG yang beberapa hari lalu telah digasaknya 1-0, kembali adegan mesum itu diulangi lagi pada tanggal 18 Maret. Eh, itu belum cukup juga. Tanggal 22 Maret berikutnya, di rumah kosong yang sama Sarmi kembali disetubuhi hingga termehek-mehek. “Sing mbesuk durung karuwan, nanjakake sik sing genah ana (yang akan datang belum tentu, manfaatkan saja dulu apa yang ada),” begitu prinsip tukang sate keliling ini.

Enak buat Pawidi, sudah barang tentu sangat menyesakkan dada keluarga Sarmi. Melihat putrinya jalan ngegang bak roda rontok lakhernya, gadis ABG itu pun diinterogasi untuk menjawab sejumlah pertanyaan. Ngakulah dia bla bla bla. Orangtua Sarmi segera melapor ke Polsek Tulung, sehingga Pawidi yang tengah pergi ke Tegal untuk mempersiapkan perkawinannya langsung diburu. Walhasil rencana indah duduk bersanding di pelaminan itu batal, karena Pawidi dijebloskan ke sel Polsek Tulung.

Jadi tukang sate, hobinya “nyate” sih Mas….! (SP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment