YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

SMS mesra PENEBAR maut


- Selain mempercepat komunikasi, ternyata HP juga bisa mempercepat orang kembali ke alam baka. Lihatlah nasib Ny. Marsih, 20, dari Boyolali (Jateng) ini. Gara-gara ketahuan terima sms mesra dari seorang lelaki, Ganang, 22, suaminya jadi kalap dan langsung membabat leher istrinya hingga wasalam.

Anak muda generasi sekarang, sepertinya tak bisa hidup tanpa HP. Bahkan bagi keluarga kaya, anaknya yang masih ingusan pun sudah dibekali telepon selular. Sesuai dengan perkembangan alat komunikasi nirkabel tersebut, model HP baru terus bermunculan. Setelah HP model besar yang potongannya mirip hotel, lalu komunikator, kini muncul blackberry yang multiguna. Padahal di masa kecilnya si bapak kaya itu, yang diketahuinya paling blek borot (kaleng bocor) yang perlu segera disolder.

Sebagai bagian generasi muda masa kini, Ny. Marsih juga tak terbebas dari sentuhan tehnologi tersebut. Meski bukan jenis black berry, dia juga memiliki HP yang bisa untuk potret dan merekam suara. Dan semenjak suaminya, Ganang, bekerja di Palembang, dia makin merasa perlu adanya HP untuk berkomunikasi. Setiap rindu menggebu, dia tak pernah henti telepon suami, minimal SMS-an. Dengan cara demikian, terkurangilah rasa kangen yang menyesak di dada itu.

Tapi namanya juga HP, tak mungkin bisa menyelesaikan secara maksimal akan segala kerinduan istri pada suami. Masih mending kambing atau anjing, ketika rindu pada lawan jenisnya, tinggal kosot maka terselesaikan sejenak kebutuhan libidonya. Lha kalau Marsih yang punya budaya dan etika, mana mungkin niru-niru kaum menda – segawon (kambing dan anjing) tersebut. Maka dalam kondisi begini, jelas si HP hanya menjadi benda mati tanpa makna.

Dalam kondisi Marsih kesepian seperti itu, lalu munculah lelaki bernama Prapto, 26. Sepertinya dia bisa membaca segala aspirasi urusan bawah waita dari Desa Potronayan Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali ini. Apa lagi bodi dan wajah Marsih ini tak jauh beda dengan Luna Maya atau Cut Tari, sehingga Prapto pun siap menjadi “duplikat”-nya si Ariel. “Bersamaku, vertikal bisa, horisontal juga bisa,” kata Prapto penuh percaya diri.

Hubungan Marsih – Prapto ternyata terus berkembang. Tak hanya sekedar hape-hapean, tapi juga berlanjut dalam urusan ranjang. Inilah puncak kerinduan yang selalu didambakan Marsih, yang bisa diberikan suaminya hanya 6 bulan sekali di kala Ganang pulang. Dan ternyata sepak terjang Prapto di medan permesuman juga sangat mengesankan dan memuaskan. Pendek kata gemak lonteng-lonteng, krasa penak ndengkeng-ndengkeng (menggeliat saking keenakan)!

Sementara hubungannya dengan Prapto terus berlanjut, beberapa hari lalu Ganang pulang dari Palembang dalam rangka setor benggol dan bonggol tentu saja. Mungkin sudah kadung terbelenggu oleh Prapto, Marsih menjadi dingin pada suami sendiri. Ketika sami mengajak berbagi cinta, dia hanya melayani sebagai kewajiban semata, tanpa ada kreatifitas sama sekali. Seperti kiper di lapangan hijau, kalau ada bola datang ya ditangkap, kalau bola jauh ya diem saja tanpa mau memburunya.

Tentu saja Ganang jadi kecewa dan curiga. Kecurigaan itu baru terjawab ketika dia sepintas membaca SMS yang masuk ke HP istrinya. Isinya begitu mesra dan musti dari kaum lelaki. Tapi ketika dia mencoba klarifikasi, Marsih malah marah-marah dan terjadilah cekcok. Ganang yang dilanda cemburu jadi emosi. Pedang samurai warisan Jepang segera diambil dan dibabatkan ke tengkuk istrinya. Kontan Marsih tewas dengan leher kiwir-kiwir. Setelah melapor pada mertua, Ganang segera menyerahkan diri ke Polsek Nogosari.

Gara-gara istri dingin, eh malah masuk sel dingin. (SP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment