YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Benih Tukang BANDENG


SEBAGAI tukang nener, Kamidi, 30, sudah biasa menebarkan benih bandeng ke tambak-tambak pinggir laut. Tapi ketika dia menebarkan “benih-benih” nafsu pada gadis Rumanti, 19, beberapa bulan kemudian perutnya pun menggelembung. Sayang, ketika dimintai tanggungjawab Kamidi malah kabur.

Dalam usia enam pelita, pembawaan Kamidi memang masih seperti anak muda. Maka ketika dia mengaku perjaka tingting, banyak juga yang percaya. Padahal aslinya, di rumah dia sudah biasa “tingkrang-tingkring” karena Kamidi memang sudah beranak dan beristri. Wajahnya masih nampak begitu imut-imut mungkin karena penampilannya yang trendi dan kekinian. Ke mana-mana pakai celana jins dan pakai kaca mata hitam, meski proresi sesungguhnya hanya tukang penebar benih bandeng.

Ditambah kemahirannya berbicara laksana pengacara, gadis kampung macam Rumanti langsung saja percaya saat Kamidi mengaku perjaka. Maka ketika diajak jalan-jalan ke tempat rekreasi, dia menurut saja. Bahkan ketika diajak ngamar di kompleks pelacuran Dasin di Kecamatan Jenu (Tuban), dia menurut saja. “Nanti kamu saya nikahi, karena hanya kamu pilihan saya,” kata Kamidi merayu dengan sejuta jurus.

Dijanjikan akan diambil istri, gadis pelajar SMA itu serta merta klepeg-klepeg, sehingga ketika diajak hubungan intim bak suami istri, Rumanti menurut saja. Lho kok enak, maka lain kali ketika Kamidi meminta jatah yang sama, selalu dilayani tanpa rasa curiga. Sejak itu, bak suami istri saja, mereka selalu berhubungan intim bila peluangnya terbuka. Tempatnya bisa berpindah-pindah, kadang di rumah Rumanti di Kelurahan Ronggomulya Kecamatan Tuban Kota.

Inilah yang fatal. Ayah ibu Rumanti percaya saja pada bualan Kamidi. Mereka rupanya sudah mantap punya calon menantu yang ngakunya pengusaha bandeng itu. Karenanya ketika Kamidi minta menginap di rumahnya, ayah ibu tak keberatan. Sore hari memang tidur sendiri-sendiri, tapi tengah malam tukang benih bandeng itu nggrumut (merangsek) ke kamar Rumanti untuk menebar “bibit unggul”.

Berapa kali Kamidi menebar “bibit”-nya, tak pernah dihitung. Rumanti baru terkesiap ketika tamu bulanannya tak hadir lagi. Saat dibawa ke bidan puskesmas, diketahui sudah positip hamil 4 bulan. Mulailah pelajar SMA itu kelabakan, macam mau ikut Unas tapi tidak belajar. Soalnya, ketika Kamidi diberi tahu, dia bereaksi dingin-dinginsaja, bahkan ujung-ujungnya tak pernah muncul lagi. “Maaf, aku sedang sibuk,” kata Kamidi saat menghindar lewat telepon.

Ternyata Kamidi memang berusaha tinggal glanggang colong playu (kabur). Meski pahit Rumanti lalu buka kartu pada keluarga. Tentu saja mereka kalang kabut, tak menyangka bahwa pemuda yang nampaknya kalem itu njlidig (nakal)-nya luar biasa. Alamat Kamidi di Desa Panyuran Kecamatan Palang dicarinya. Ternyata dia sudah punya anak istri. Meski terpaksa, keluarga Rumanti mendesak lelaki pecundang itu untuk menikahi. Prinsipnya, soal nanti cerai lagi tak masalah, yang penting si bayi punya kepastian hukum.

Rupanya Kamidi keras kepala. Meski sudah jelas menghamili Rumanti, tetap tak mau tanggungjawab. Ya sudah, keluarga si gadis tak bisa berbuat lain kecuali membawa persoalan ini ke Polres Tuban. Sejak beberapa hari lalu, Kamidi sudah mendekam di sel dingin.Tapi dalam pemeriksaan, dia tetap berkelit bahwa hubungan intim dengan Rumanti atas dasar jual beli. “Saya setiap main selalu memberi uang kok,” tangkisnya.

Main apa, petak umpet? (JP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment