YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Di "COLOK" kakek tukang "CILOK"


MESKI usia sudah 60 tahun, Mbah Pendi, masih mempeng (doyan) juga dalam urusan ranjang. Tak puas dengan pelayanan istri, dia nekad menggauli anak tiri 4 kali dalam seminggu. Skandal itu baru berakhir ketika kakek ini ribut dengan istrinya. “Dia juga ngeloni anak tirinya,” kata Ny. Pendi bla bla bla……

Luar biasa Mbah Pendi dari Tulungagung (Jatim) ini. Dalam usia mulai udzur dia masih “rosa-rosa” macam Mbah Maridjan dari Gunung Merapi. Cuma bedanya, jika Mbah Marijan itu kuat mendaki gunung, Mbah Pendi ini kuat “mendaki” anak tirinya sendiri. Sejak bangku SMA, Ratih, 22, disetubuhi ayah tirinya. Sampai gadis itu kuliah di Akademi Perawatan, setiap pulang kampung dan ketemu ibunya, malam harinya pasti dipaksa melayani kebutuhan biologis si kakek tukang jualan cilok (aci dicolok – Red) ini.

Meski hanya jualan cilok di rumahnya, ekonomi Mbah Pendi cukup mapan. Ini dibuktikan dari kemampuannya menyekolahkan Ratih anak tirinya hingga bangku perguruan tinggi. Semua tahu, membiayai kuliah anak di era gombalisasi sungguh menguras kantong. Paling celaka, biaya kuliah di perguruan tinggi negeri justru lebih mahal dari perguruan tinggi swasta. Maklumlah, meski UU Badan Hukum Pendidikan sudah dibatalkan, kampus tetap saja menjadi perusahaan yang cari untung sebanyak banyaknya.

Mbah Pendi ternyata lebih cerdik dari para rektor. Dengan kemampuan uangnya, dia bisa mendikte dan memaksa Ratih untuk terus tunduk dalam kendali syahwatnya. Misalkan saja gadis itu lebih betah di kos-kosannya di kota, sehingga Mbah Pendi tak bisa menyalurkan kebutuhan biologisnya, dia cukup mengancam saja. “Kowe ra gelem ngladeni aku, kuliahmu ra tak ragadi (kamu nggak mau melayaniku, biaya kuliahmu takkan kutanggung),” katanya selalu.

Ratih menjadi anak tiri sejak 10 tahun lalu, saat ibu kandungnya dinikahi duda pengusaha/warung cilok di Desa Besole Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung. Sayang sekian lama menikah pasangan itu tak memiliki momongan. Akibatnya, Mbah Pendi jadi jenuh pada istri sendiri. Meski masih tidur seranjang, tapi tak pernah disentuh. Ny. Murni, 53, ibunya Ratih boleh dikata bagaikan monumen belaka. Tapi karena memang sudah merasa tua, istri Mbah Pendi ini acuh saja tak pernah memperoleh jatah.

Nggak tahunya, sementara gairah padam pada istri sendiri, diam-diam Mbah Pendi sangat bergairah pada Ratih anak tirinya. Ibarat PLN begitu, voltase pada istri hanya 110, dengan anak tiri bisa 140 volt seketika. Makanya, ketika anak tirinya mulai tumbuh dewasa, Mbah Pendi selalu kepikiran kapan bisa menyetubuhi Ratih yang tampak semakin sekel nan cemekel itu.

Ketika Ratih duduk di bangku SMA kelas II, mulailah tukang cilok itu “mencolok” anak tirinya. Awalnya gadis itu menolak, tapi ketika diancam takkan dibiayai sekolahnya, dan ibunya akan diceraikan, terpaksalah dia meladeni nafsu bejat ayah tirinya. Gilanya, Mbah Pendi ini kuatnya luar biasa. Dalam seminggu dia bisa 4 kali menyetubuhi Ratih. Itu berarti hanya selang satu hari saja dia prei, habis itu ngebut lagi. Presis sopir bis trayek luar kota.

Karena Ratih selalu takut akan ancaman ayah tirinya, hingga di perguruan tinggipun dia masih harus meladeni. Jika lama tak pulang kampung, pasti disusulnya dan diacam. Setibanya di rumah kembali Ratih dijadikan ajang pemuas nafsu. Mbah Pendi pun tak pernah merasa berdosa, karena dia merasa telah membiayai anak tirinya sekuat tenaga. “Itung-itung ini juga dana aspirasi, tapi nggak sampai Rp 15 miliar kayak usulan DPR,” kata Mbah Pendi sok tahu.

Sampailah kemudian kejadian beberapa hari lalu. Entah apa urusannya, mereka ribut dan sampai main pukul. Ketika kasus KDRT ini dilempar ke polisi, Mbah Putri tanpa tedeng aling-aling mengaku bahwa suaminya sering menyetubuhi anak tirinya. Nah, karena laporan ini Mbah Pendi pun ditangkap dan disel. Dalam pemeriksaan dia mengaku Ratih tak pernah sampai hamil karena sikakek selalu pakai kondom.

Di samping nggak pakai apa-apa, ya Mbah? (JP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment