YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Gadis Komoditas Non MIGAS


ANAK gadis cantik merupakan kebanggaan orangtua, tapi jangan pula dianggap sebagai komoditas non migas. Seperti Ny. Ratemi, 55, dari Magetan (Jatim) ini contohnya. Rumahnya digerudug warga gara-gara dia “menjual” Santi, 23, putrinya kepada lelaki yang sudah berkeluarga demi kepuasaan syahwat.

Memiliki putri cantik jelita, adalah karunia Illahi. Sebab meski ayah ibunya berwajah simpang siur laki perempuannya, banyak juga yang menurunkan anak-anak ganteng dan cantik. Sebaliknya, biarpun orangtua tampan dan rupawan, tak ada jaminan anaknya akan lahir cantik. Sebab sering terjadi, ayah macam artis Adrian Maulana, istri macam Luna Maya, tampang anaknya justru berantakan macam mercon bantingan.

Maka sungguh berbahagialah Ny. Ratemi dari Desa Sukodadi Kecamatan Kartoharjo Kabupaten Magetan ini, karena putri bungsunya berwajah cantik bagaikan widadari tumurun (bidadari turun dari kahyangan). Meski hanya anak kampung yang akrab dengan tanah persawahan, Santi tumbuh sebagai gadis yang berkulit putih bersih, bodi seksi dan betisnya tentu saja mbunting padi. Lihat pula tumitnya, berwarna jambon dan ngendog dara (seperti telur merpati) kata kidalang Anom Suroto.

Sayangnya Santi hidup bukan dalam keluarga berkecukupan, sehingga berpakain pun sederhana saja, bukan keluaran butik dan Matahari. Ibunya hanya buruh tani dengan penghasilan yang pas-pasan. Karena itu tidaklah mengherankan Ny. Ratemi sering berutang ke sana kemari, termasuk pada lelaki sukses Paimo, 38, yang masih tetangganya sendiri. Anehnya, meski utangnya sudah berjut-jut, tapi pria “budiman” ini terus saja memberi manakala janda Ratemi membutuhkan uang.

Ternyata, semua itu bukanlah sesuatu yang gratis. Paimo begitu royal pada janda Ratemi, karena sesungguhnya sangat menaksir Santi yang cantik dan sekel nan cemekel tersebut. Jika Ny. Ratemi ini wanita bermartabat, pastilah akan berhenti merepotkan Paimo manakala tahu jerohan dewa penolongnya.

Tapi rupanya tidak. Justru karena tahu Paimo mengincar anak gadisnya, sebentar-sebentar dia minta duit. Pendek kata bagi Ny. Ratemi, anak gadisnya yang cantik itu tak lebih sebagai komoditas non migas.

Tak peduli Paimo sudah berkeluarga, janda Ratemi selalu mendorong putrinya untuk mau diajak jalan-jalan si lelaki “budiman” tersebut. Karena takut akan ancaman ibu kandungnya, Santi terpaksa menurut. Padahal ke mana saja Paimo membawa gadis kembang desa itu? Awalnya ke tempat rekreasi, tapi kemudian masuk dalam hotel. Di situlah Santi nan cantik itu harus pasrah disetubuhi, sebagai ajang pemuas nafsu Paimo. “Mbokmu wis akeh utange karo aku (ibumu sudah banyak berutang padaku),” kata Paimo seusai mengeksekusi gadis tetangganya.

Asyik bagi Paimo, neraka bagi istrinya di rumah. Penderitaan istri Paimo terdengar oleh para tetangga, sehingga mereka kemudian mengingatkan janda Ratemi untuk tidak “menjual” anak gadisnya. “Kasihan istri Paimo, dia makan hati gara-gara ulah anakmu,” kata warga. Tapi ibu si Santi ini maju terus pantang mundur, putrinya terus diumpankan pada Paimo.

Lama-lama warga pun jadi geregetan. Saat Paimo pulang mengantarkan Santi ke rumahnya, penduduk menggeruduk rumah janda Ratemi. Sadar bahaya yang akan mengancam, Paimo lari terbirit-birit masuk persawahan, sementara sepeda motor dan sepatunya dibiarkan menjadi sandera warga Desa Sukodadi.

Nekad, Paimo “berak” di kampungnya sendiri. (JP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment