YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Nggak Begituan tapi Kok BEGINI


– Sama Pak RT suka anggap sepele sih. Beginilah akibatnya, padahal nggak begituan! Dasimun, 40, ketika menginap di rumah teman lama, justru digerebek warga. Pasalnya, Ny. Titik, 38, menerima tamu bermalam tidak lapor Pak RT. Padahal suaminya, sudah sekian lama bekerja di Batam. Bagaimana warga nggak curiga?

Meski kelihatannya hanya sepele, jadi RT suka bikin berabe. Dia hanya direken warga ketika butuh surat pengantar ke lurah. Tapi pada aturan-aturan yang dibuat Pak RT demi keamanan lingkungan, suka tak digubris. Ada peraturan ”tamu lebih dari 1 X 24 jam harus lapor” hanya dianggap angin lalu. Maka tidak mengherankan, dalam rapat pemilihan Ketua RT, banyak warga malas hadir. Yang hadir pun, jika didaulat jadi Pak RT selalu berkelit, dengan alasan: ”Aku sangat sibuk di luar. Yang lain sajalah…….”

Gara-gara menyepelekan peran Pak RT, Ny. Titik dari Desa Ponco Kecamatan Parengan, sempat dipermalukan warga. Tengah malam di kala enak-enak tidur dibuai mimpi, tahu-tahu pintu rumahnya digedor-gedor warga. Dengan mata masih kriyip-kriyip belum sadar benar, dia digelandang ke rumah Pak RT, bersama tamunya malam itu, Dasimun. Di depan Pak RT dan tokoh masyarakat setempat, keduanya dituduh berzina, karena memasukkan lelaki lain di saat suami tidak di rumah. Coba…….

Sesungguhnya Titik dengan Dasimun merupakan teman lama sejak kecil di Surabaya, kampungnya dulu. Ketika ada lowongan kerja di PT Exon Mobil Tuban, Dasimun mencoba melamar ke sana. Untuk menghemat anggaran, dia sengaja numpang nginep di rumah Titik sahabatnya sedari kecil, yang kebetulan tinggal dekat kompleks PT Exon Mobil. “Silakan saja Mas, tapi rumahku jelek dan kecil lho….,” kata Titik merendah, tapi tutur bahasanya sangat ramah, membuka diri.

Jadilah Dasimun numpang tinggal sementara di rumah Titik. Dia hanya malam saja di rumah itu, sedang siangnya dia sibuk mengurus proses lamarannya di Exon Mobil. Setiap tiba di rumah, Dasimun hanya mandi dan makan, habis itu langsung tidur di kamar belakang. Bangun pagi-pagi terus mandi dan sarapan, habis itu pergi lagi ke Exon untuk mengurus pekerjaan. Gaya kehidupan yang monoton selama beberapa hari itu.

Nampaknya biasa-biasa saja, nggak ada yang salah. Tapi Ny. Titik lupa bahwa dia hidup bermasyarakat, yang di sana juga ada penguasa wilayah. Akan kehadiran sahabat lamanya tersebut, sama sekali dia tak pernah lapor pada RT setempat. Dia pikir, itu soal sepele. Apa yang mau dicurigai dari sosok temannya itu? Tampang teroris juga nggak ada. “Kalau tiap pagi sarapan pakai tempe rong iris memang iya,” kata Titik cari pembenaran sendiri.

Orang Jawa punya falsafah, beda silit seje anggit (pikiran orang tidak sama). Itu pula yang terjadi. Apa yang ada di pikiran Titik, tidak sama dengan alam pikiran para tetangga. Mengingat suami Titik sudah lama tak di rumah karena kerja di Batam, warga menduga bahwa lelaki yang tiap malam menginap di situ adalah gendakannya. Mereka tahu bahwa sebagai istri yang jauh dari suami, pastilah selalu “kadhemen” setiap malam. Dus karena itu, diduga keras setiap malam lelaki itu datang untuk melayani aspirasi urusan bawah Ny. Titik.

Berdasarkan asumsi itu, pada hari ke-3 si tamu “misterius” nginap, penggerebekan dilakukan. Tentu saja Ny. Titik dan Dasimun gendandapan (kalang kabut) dibuatnya. Bayangkan, baru asyik ngimpi mungkin nonton video porno mirip Ariel – Cut Tari, tahu-tahu digedor-gedor, diminta datang ke rumah Pak RT. Keduanya dituduh telah berzina di kala suami Titik di Batam. Untung saja tak ada bukti-bukti perselingkuhan itu, bahkan ketika dikonfirmasi lewat telepon Tuban – Batam, suami Titik mengakui kenal betul dengan tamunya tersebut. “Maaf Pak RT, istriku belum sempat lapor to….?” ujar suami Titik di seberang.

Makanya, butuh Pak RT jangan cuma ketika cari KTP. (RB/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment