YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Menangkap PERDES hidung belang


– Sebenarnya model hidung Basuki, 45, standar saja. Tapi warga menggelari dia sebagai perangkat desa hidung belang. Sebab berulangkali dia menyatroni janda muda Dasini, 36, di tengah malam. Lantaran makin keterlaluan, warga beberapa hari lalu terpaksa menggerebeknya dan diserahkan ke Polsek.

Secara linguistik (asal-usul kata) belum ditemukan kenapa lelaki yang doyan perempuan disebut “hidung belang”. Padahal secara kasat mata, pria-pria yang suka berpetualang asmara tersebut hidungnya juga sangat standar, tidak nampak ada belang-belangnya. Bila dikotak-katik secara logika, mungkin disebut demikian lantaran pria “hidung belang” tersebut hobinya suka cium sembarang wanita. Akhirnya dia punya hidung jadi lecet, dan bekas lukanya ada yang nampak belang!

Sekarang, gelar “hidung belang” diberikan kepada Basuki, warga Desa Tunggul Kundung Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung (Jatim). Penduduk terpaksa memberi nama seperti itu, lantaran hobinya main perempuan.Ironis nggak, jadi pamong desa kok gemar “ngemong” perempuan nganggur dalam kamar. Bukan lagi bayi, tapi oleh Basuki suka di-pekeh-nya, digendong ke sana kemari. “Tak gendong ke mana-mana, tak gendong ke mana-mana. Asyik ta, penak ta….?” kata Basuki macam Mbah Surip almarhum.

Belakangan hobi Basuki menyatroni randa kempling (janda seksi) Ny. Dasini warga setempat. Berulang kali sejumlah warga memergoki pak pamong masuk ke rumah si janda di malam hari. Bila kepergok di jalan dan warga bertanya “tindak pundi Pak Basuki”, jawabnya standar sekali. “Arep ngulon kuwi kontrol lingkungan (mau ke barat, memeriksa lingkungan)”. Tentu saja warga terheran-heran, masak yang dikontrol pamong hanya seputar rumah Dasini saja. Memangnya di sana banyak maling? Padahal “maling”-nya dia sendiri.

Berkaitan dengan demam Piala Dunia yang tengah melanda warga Indonesia, Basuki semakin punya alasan untuk keluar rumah meninggalkan anak bini. Pamitnya sih mau nonton bareng bersama warga, tapi sesungguhnya dia malah “main bola” sendiri di rumah janda Dasini. Di kala tim favorit penonton belum mencetak gol satupun, kesebelasan Basuki sudah berhasil mengandangkan “bola” satu kosong melawan Ny. Dasini. Pertandingan di sini tenang sekali, tanpa ada suara “tawon”, tanpa ada suara terompet bersahut-sahutan.

Sebetulnya Ny. Dasini sudah lama disindir-sindir warga melalui bahasa santun, tapi mengena. Namun karena janda ini bukan tipe orang yang ing sasmita amrih lantip (pandai menangkap isyarat) sebagai wejangan Sri Mangkunagoro IV dari Surakarta, lama-lama justru gonyak-ganyuk nglelingsemi (berbuat memalukan). Bayangkan saja, di kala pasangan mesum itu tengah menggiring bola, tahu-tahu digerebeg warga. Peluit panjang pun terpaksa berbunyi, meski belum sempat turun minum di babak pertama.

Peristiwa ini terjadi beberapa malam lalu, di kala Prancis lawan Meksiko di Afrika Selatan sana. Dalam kondisi “ketanggungan” tersebut Pak Perdes bersama Ny. Dasini diserahkan ke Polsek Besuki. Sebagai barang bukti disertakan pula kain sprei dan spatu boot. Tapi karena kasus perzinaan sifatnya delik aduan, polisi tidak bisa memproses sepanjang tidak ada yang mengadu. Maka bila kasusnya mau berlanjut, misalnya istri Basuki, harus melapor ke polisi.

Kalau begitu masalahnya, capek deh…..! (RK/Gunarso TS)

Nah Ini Dia : File

No comments:

Post a Comment