YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Kapan Ganggu Bini Sampean ??


- Apes banget nasib Sumali, 50, dari Malang (Jatim) ini. Setelah sakit berminggu-minggu di rumah sakit, istrinya minta cerai. Baru beberapa hari jadi duda, eh …..Paridi, 40, tetangganya datang ke rumah ngancam pakai golok. Ternyata, tukang becak ini tak diterima dituduh sebagai penyebab perceraian Sumali – Samini.

Meski nggak melakukan video mesum mirip artis Ariel – Luna Maya – Cut Tari, Paridi lumayan stress belakangan ini. Sebab para tetangganya kini memandangnya dengan sudut mata sinis. Pasalnya, dia dituduh setan doyan sambel alias suka merusak rumahtangga orang. Ya Tuhaaaan, cuma jadi tukang becak seperti dirinya masak jadi sumber gosip. “Kapan aku ndhemeni bojone Sumali (kapan saya berselingkuh sama istri Sumali),” kata batin Paridi warga Desa Suko Kecamatan Sumberpucung, Malang.

Memang, di kampungnya belakangan ini Paridi jadi topik pembahasan warga. Konon, perceraian Sumali dengan istrinya, Samini, 46, belum lama ini; dipicu oleh masuknya pihak ketiga. Siapa pihak ketiga tersebut, tak lain tak bukan ya si Paridi ini. Kata gosip tersebut, selama Sumali dirawat di rumah sakit, Paridi diam-diam yang memanfaatkan kesempatan itu. Menurut informasi para si lambe nggambleh (baca: penyebar isyu), habis nggenjot becak Paridi “nggenjot” istri Sumali. Edan.

Gossip tak sedap itu dimulai ketika Sumali menderita sakit berminggu-minggu di RS Saiful Anwar. Nah, selama dia terkapar di ruang rawat inap, setiap bezuk Paridilah yang mengantarnya ke rumah sakit. Waktu pulang, kembali Ny. Samini naik becaknya Paridi. Jadi memang seperti mimi lan mintuna (baca: rukun sekali) begitu. Apa lagi setiap naik becaknya Paridi, Samini dapat pelayanan gratis karena memang tak mau dibayar.

Hampir sebulan Sumali dirawat. Tapi setelah itu rumahtangganya justru jadi berantakan. Mereka sering ribut dan klimaksnya pasangan itu bercarai. “Jejak rekam” Paridi – Samini selama Sumali dirawat, diam-diam disampaikan kepada yang empunya istri alias Sumali sendiri. Nah, Sumali pun manggut-manggut macam Pak Harto. “Oo, rupanya ini yang membuat istriku minta cerai,” kata Sumali duda-wan baru.

Jelas Sumali tidak terima perceraiannya akibat “grand design” seorang tukang becak. Tapi sayang, dia tak berani klarifikasi maupun konfirmasi pada pihak terkait, maksudnya Paridi sendiri. Maklum, di samping tak punya bukti pendukung, Sumali tahu bahwa tetangganya ini emosian, mudah tersinggung. Ditambah posturnya yang tinggi besar, Sumali merasa bukan lawannya. Dia takut, begitu tukang becak ini marah, langsung main banting. Balung tuwa (tulang tua) macam dirinya, jelas tak berani ambil resiko.

Celakanya, secara getok tular Sumali suka mengeluh pada tetangganya bahwa rumahtangganya bubrah gara-gara ulah Paridi. Di era gombalisasi seperti sekarang ini, informasi begitu cepat menyebar. Tak urung kabar itu menjadi milik publik di Desa Suko dan kemudian mampir ke telinga Paridi. Tentu saja dia marah sekali. Sudah menolong antar jemput bini Sumali ke RS secara gratis, kok malah difitnah ndhemeni istrinya. “Diancuk…..,” maki Paridi sambil membawa golok, langsung ke rumah Sumali.

“Dhek kapan aku ndhemeni bojo sampeyan (kapan aku menzinai istrimu)?” tantang Paridi sambil mengamang-amangkan golok di muka Sumali. Kontan nyali tuan rumah tinggal sak menir (baca: ciut). Dia buru-buru masuk rumah dan kunci pintu. Karena merasa terancam, sepeninggal Paridi sang pemarah, Sumali segera melapor ke Polsek Sumberpucung minta perlindungan. Duda baru ini merasa nyawanya bisa tercerabut sewaktu-waktu oleh Paridi.

Kenapa nggak minta ke LPSK saja sekalian? (HS/Gunarso TS)

No comments:

Post a Comment