YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Korban Jumenengan TETANGGA


– Jika sekadar wacana, tertarik bini tetangga masih amanlah. Tetapi jika mulai “intevensi” macam Maryadi, 36, dari Pacitan (Jatim) ini, ya berabelah jadinya. Dia kini diamankan polisi karena seusai betulkan antene TV memaksa Watik, 28, istri tetangganya “jumenengan” alias bersetubuh sambil berdiri.

Kalau mau jujur, makhluk lelaki banyak yang kelakuannya seperti kambing bandot. Melihat “rumput hijau” di kebun tetangga, pengin pula menikmati, meski di rumah juga sudah memiliki “rumput” ijo ledung-ledung (ijo royo-royo) yang siap disantap kapan saja. Itu pun, jika hanya sekadar wacana, atau berkhayal selagi nganggur, masih terbebas dari jerat-jerat hukum. Tapi jika langsung main seruduk, sedangkan pihak sononya tidak merespon, siap-siap saja bakal dikeler (ditangkap) pak polisi.

Maryadi warga Desa Ploso Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan, rupanya sudah lama tertarik berat pada Ny. Watik, tetangga sendiri. Sejak gadis malah. Wanita itu memang cantik, seksi lagi. Tapi karena masih nganggur kala itu, praktis Maryadi tak punya “dana aspirasi” untuk mendekati. Jangankan Rp 15 miliar seperti maunya Golkar, Rp 150.000,- saja jarang nyangkut di kantongnya. Jadi ketika gadis Watik diapeli sejumlah cowok kala itu, dia hanya kucing nggondol sabun alias kalamenjing munggah medhun (baca: ngiler doang).

Ketika Maryadi sudah bekerja dan punya duit, Watik sudah keburu digondol seorang pegawai di Surabaya. Terpaksalah dia menikah dengan perempuan yang standar-standar saja. Ibarat mobil, istrinya kini tidak power stering, tanpa central lock. Kalau pun pakai AC, hanya merk Sanden bikinan Bantul (DIY). Pendek kata, waton ngglindhing (asal jalan). Tapi itupun sangat disyukuri Maryadi, karena kata ustadzah Mama Dedeh di TV tiap pagi, jika orang tak pandai bersyukur, siksa Allah adzabun syadid (amat pedih).

Watik terlupakan sejenak dari alam bawah sadar Maryadi. Tapi tiba-tiba Watik yang sudah urip mulya (hidup bahagia) di Surabaya, pulang ke Pacitan karena neneknya sakit. Suami yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, tak bisa berlama-lama di rumah keluarga istri. Dia hanya sehari di Ploso, sementara istrinya direlakan berlama-lama menunggui neneknya. Maklum, Watik ini merupakan cucu kesayangan.

Sejak itu ketenangan Maryadi terusik. Tiap pagi dia selalu melihat Watik mantan idola belanja ke warung. Bodinya masih seksi, dan keayuannya belum luntur. Ketika perempuan itu lalu menyapa dirinya sambil tersenyum ramah, wihhhh……jantung Maryadi nyaris mau copot. Jawabannya pun jadi gugup, macam Burisrawa wayang kulit ketemu Wara Sembadra.

Ndilalah kersaning Allah, teve di rumah Watik gambarnya kurang bagus, karena pemasangan antene kurang pas. Diapun minta tolong Maryadi untuk membetulkan posisi antene. Rindi asu digitik (bergegas) segara membantunya. Tapi usia membetulkan teve, lelaki ini tak segera kembali. Malah jakunnya turun naik, menyaksikan bodi Watik yang begitu seksi menggiurkan. “Kapan lagi Bleh, sikat saja mumpung ada peluang,” kata setan memberi motivasi.

Eh, ternyata Maryadi benar-benar melaksanakan. Watik yang asyik memperhatikan layar kaca, tahu-tahu didekap dari belakang dan diseret ke kamar. Karena berontak, Maryadi hanya bisa memaksakan gairahnya sambil berdiri. Meskipun hanya sekejap, terlampiaskanlah nafsunya yang terpendam selama ini. Tapi Watik yang tak terima diajak ”jumenengan” seperti itu, mengadu pada keluarga dan diteruskan ke Polsek Tegalombo. Terpaksalah kenikmatan sesaat Maryadi harus dibayar mahal, karena dia harus mendekam di sel dingin.

Pikir dulu kenikmatan, sesal kemudian tak berguna. (JP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment