YOU CAN GET ALL

Saturday, 21 August 2010

Ketika para manula menyimak Alquran

RATUSAN manula (manusia usia lanjut) seusai salat Dzuhur di Masjid Agung, Kauman, Magelang tidak langsung meninggalkan masjid yang ada di sebelah barat Alun-alun Kota Magelang itu. Mereka masih tetap duduk di serambi masjid untuk melakukan semaan (menyimak) dan membaca Alquran.

Tradisi semaan yang dipimpin oleh KH Muslim seorang pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu, didominasi oleh kaum muslim yang ada di wilayah Kabupaten Magelang.

’’Sebagian besar diikuti oleh warga pedesaan yang ada di Kabupaten Magelang. Kebanyakan dari desa-desa di sekitar kota ini, mungkin orang kota lebih banyak beraktivitas lain,” kata Takmir Masjid Agung Kauman Magelang, H Djauhari.

Ia mengatakan, kegiatan semaan itu mempunyai daya tarik sendiri. ’’Sepertinya tidak afdal kalau tidak datang ke Masjid Agung, selama bulan puasa,”katanya. Daya tarik Masjid Agung lainnya adalah, sejak awal puasa hingga hari ke-23, imam salat tarawih turun-temurun dilaksanakan oleh santri dari Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Djauhari menceritakan, kebiasaan itu diawali tahun 1955 ketika dirinya mengunjungi Pesantren Krapyak Yogyakarta. Saat bertemu dengan KH Abdullah pengasuh pesantren tersebut, dia minta agar salah seorang santrinya bisa mengisi kegiatan di Masjid Agung Magelang. ’’KH Abdullah langsung menunjuk Nawawi, salah seorang santri alumninya Ponpes Krapyak untuk mengisi kegiatan di sini,” ujarnya.

Tak putus
KH Nawawi yang selanjutnya menjadi pengasuh Pesantren Ngrukem, Bantul, sejak tahun 1956 hingga 2002 selalu menjadi iman salat tarawih di Masjid Agung. Dia menjadi imam selama 23 hari pada setiap bulan puasa, tanpa pernah putus di tengah jalan.

Menurutnya, selama 20 hari bulan puasa, para peserta semaan diwajibkan khatam Alquran sebanyak dua kali. Sedangkan, dalam seharinya para peserta semaan harus membaca Alquran sebanyak tiga juz. Tradisi semaan hingga saat ini telah menjadi wujud kegiatan yang mengakar di kalangan umat Islam setempat selama Ramadan.

’’semaan ini diyakini sebagai langkah untuk mengamalkan ibadah puasa Ramadan,"katanya. Mereka meneladani Nabi Muhammad yang tadarus dengan malaikat Jibril hingga khatam dua kali. Para ulama memutuskan umat Islam khatam Alquran dua kali setiap tahun. Mereka yang belum sempat khatam, menyelesaikannya sekaligus saat Ramadan," katanya. Widiyas Cahyono-pu

No comments:

Post a Comment