YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Salah Ngamar di Satpol PP


– Dariman, 43, benar-benar mata mlorok ra ndedelok (salah lihat); mau selingkuh tapi tidak mengamati medan. Mentang-mentang pernah “ngamar” di situ itu, langsung saja pesan kamar bersama selingkuhannya. Padahal hotel mesum itu sudah jadi kantor Satpol PP, sehingga kehadirannya justru dibikin malu.

Tahukah Anda burung pinguin yang hidup di Kutub Utara? Selain tahan dingin dan anti masuk angin, dia ternyata sangat setia pada sebuah tempat yang dicocokinya. Bila biasanya lewat jalan A misalnya, dia tak mau pindah tempat meski jalan itu kini tertutup. Misalkan ada orang jongkok sengaja menutup jalannya, pinguin itu akan tetap setia menunggu sampai orang itu pergi. Kenapa si burung tak mau beranjak? ”Pindah tempat lain, ribet ngurus ijinnya, pakai duit lagi…..!” begitu kata si penguin, ngkali.

Dariman rupanya termasuk sosok lelaki yang seperti burung pinguin itu. Hotel di Magetan cukup banyak, tapi ketika kencan dengan gendakannya, pilihannya dari dulu tak pernah berubah, selalu Hotel ”Marem” di Jalan Yos Sudarso. Entah apa yang jadi pertimbangannya. Mungkin tarifnya lebih murah, mungkin juga suasananya lebih kekeluargaan macam Losmen Srikandi dalam sinetron TVRI tahun 1980. Atau mungkin juga, ngamar di situ bisa nggesek pakai kartu kredit.

Sejak 4 tahun lalu dia memang memiliki gebedan baru, namanya Rahayu, 37, warga Desa Manjung Kecamatan Panekan, Magetan. Seperti lazimnya punya gendakan, mereka cenderung selalu ingin bermesraan, jika tak mau disebut selingkuh. Sejak kencan pertama, pasangan itu selalu memilih hotel Marem di Jalan Yos Sudarso. Setiap ”ganti olie” ibaratnya mobil, tempatnya tak pernah berubah, sehingga para petugas hotel pun sampai hafal. ”Badhe ”tune up” napa Mas…?” goda satpam yang sudah sangat diakrabi.

Tapi entah kenapa, 3 tahun belakangan Dariman – Rahayu tak pernah kontak-kontakan lagi. Itu artinya, hotel ”Marem” juga kehilangan pelanggan setianya. Yang meninggalkan hotel tersebut ternyata bukan hanya Dariman dan gendakannya, tapi juga tamu-tamu yang lain, sehingga hotel tersebut sepi pengunjung. Daripada merugi terus, pihak menejemen lalu lalu menjual gedungnya dan dibeli Pemda Magetan. Oleh bupati, gedung bekas hotel itu disulap jadi kantor Satpol PP, karena lokasinya memang bersebelahan dengan kantor Pemda.

Alih fungsi hotel jadi Kantor Satpol PP tersebut dengan sendirinya oleh pemilik lama tak diumumkan ke koran, apa lagi diberitahukan kepada Dariman – Rahayu sebagai pelanggan lama. Yang jelas, dengan alih fungsi gedung tersebut, menjadi lebih banyak manfaatnya. Sebagai kantor Satpol PP, berarti jadi kantor menertibkan hal-hal yang batil di seputar wilayah Pemda. Sebaliknya jadi hotel, akan makin banyak mudlaratnya karena sering dijadikan ajang mesum. Buktinya, MUI Pusat sampai bilang bahwa hanya 2 hotel di Indonesia yang menolak tamu laki perempuan yang bukan muhrimnya.

Alkisah, Dariman – Rahayu yang sudah putus selama 3 tahun, tahu-tahu nyambung lagi. Seperti masa-masa yang lalu, mereka ingin menuntaskan kangennya kembali di hotel ”Marem”. Tanpa mempelajari situasi medan, dengan boncengan motor keduanya unyug-unyug masuk ke gedung yang kini sudah berubah jadi Satpol PP. Petugas jaga dikiranya resepsionis hotel. ”Minta kamar yang standar saja Mas,” kata Dariman dengan yakin.

Bukan dicarikan kamar, justru Dariman diperiksa bersama gendakannya. Meski beralasan tidak dalam rangka mau berbuat mesum, tak urung keduanya diamankan. Dalam pemeriksaan Dariman mengaku, 3 tahun lalu sering berkencan di tempat itu. Nah, gara-gara main tabrak saja tersebut, skandalnya selama ini jadi ketahuan keluarganya di Kecamatan Jogoroyo Kabupaten Ngawi. Bagaimna Dariman nggak kehilangan muka?

Kalau muka hilang, nggak bisa raup (bersih muka) lagi dong! (HS/Gunarso TS)

No comments:

Post a Comment