YOU CAN GET ALL

Wednesday, 7 July 2010

Rencana Telkom Flexi dan Esia

Bakrie Masih Bungkam Soal Konsolidasi Flexi-Esia
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Rakhmat Junaedi (Ist.)
Jakarta - Manajemen Bakrie Telecom masih bersikeras untuk menyimpan rahasianya rapat-rapat soal rencana konsolidasi bisnis dan penggabungan unit usaha antara divisi telepon nirkabel Esia dan Flexi dari Telkom.

"Kalau untuk yang satu itu, sekali lagi akan kami bilang 'no comment'. Kami belum bisa memberikan komentar apa-apa," tegas Direktur Korporasi Bakrie Telecom, Rakhmat Junaedi kepada detikINET usai peluncuran AHA, produk EVDO dari Bakrie Connectivity, di Hotel Four Season, Jakarta, Kamis (24/6/2010).

Sebelumnya, Menteri BUMN Mustafa Abubakar memperkirakan konsolidasi bisnis antara Esia dan Flexi akan terjadi menjelang tutup tahun 2010 ini.

Mustafa menyakini, jika konsolidasi terjadi, maka layanan telepon berbasis CDMA milik Telkom itu akan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pasar. "Dengan sinergi menjadi kekuatan riil, bisa menumbuhkan perusahaan," katanya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah yang selama ini menutup rapat aksi korporasi itu pun akhirnya buka suara. "Tidak hanya Bakrie Telecom, ada juga operator CDMA lainnya yang sedang dibidik," ungkapnya.

Diungkapkannya, Telkom membidik Bakrie Telecom sebagai satu unit perusahaan, bukan hanya layanan Esia. "Kalau Telkom mau konsolidasi, kami tentu akan ambil semuanya. Tidak mungkin hanya satu unit usaha," tegasnya.

Untuk diketahui, Bakrie Telecom telah membentuk dua anak usaha baru yakni Bakrie Connectivity (Bconnect) dan Bakrie Network (Bnet). Bconnect bergerak di bidang jasa broadband dan telah digelontorkan investasi awal US$ 100 juta. Sementara Bnet bergerak di bidang pembangunan jaringan.

Kabar beredar mengatakan, keluarga Bakrie tak akan melepaskan kedua anak usaha baru itu ke Telkom, tetapi hanya Esia sebagai penyedia jasa suara dan SMS dengan 11 juta pelanggan. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa Esia yang malah akan mengambil alih Flexi dengan komposisi manajemen lebih banyak dari pihak Bakrie Telecom.

Pola konsolidasi sendiri dikaji dalam bentuk merger, akuisisi, atau membeli saham. "Jika mau dikonsolidasikan dengan Flexi, maka unit usaha ini harus jadi PT dulu. Tidak mungkin unit usaha konsolidasi. Proses menjadi PT saja butuh waktu empat bulan,” kata Rinaldi.

Menanggapi kondisi ini, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan mengkaji konsolidasi unit usaha fixed wireless access (FWA) Flexi dengan Esia untuk menjamin kepastian kompetisi yang sehat.

"Kami akan melakukan kajian secara komprehensif. Kami akan meminta kedua perusahaan untuk melaporkan aksi itu guna dikaji dampaknya secara teknis ke pasar. Soalnya dua pemain itu adalah penguasa pasar FWA, dan jika digabung menguasai pasar hingga di atas 90%," kata Anggota Komite BRTI Heru Sutadi.

Menurutnya, walaupun di masa datang akan diterapkan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi berbasis pita sehingga tidak ada lagi lisensi FWA atau seluler, namun di jangka pendek keberadaan FWA tidak bisa dikesampingkan.

"Apalagi tarif FWA itu masih terproteksi karena mengikuti aturan telepon tetap. Beda dengan seluler dimana biaya interkoneksinya sudah terkoreksi dua tahun lalu," katanya.

( rou / ash )

No comments:

Post a Comment