YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Kasun Mencari Kenikmatan Sesaat


- Dicopot dari jabatan Kasun (Kepala Dusun) karena politik, itu tak memalukan. Tapi jika diberhentikan gara-gara urusan selingkuh, mau ditaruh mana muka ini? Tapi inilah lakon yang diperankan Kasun Marijo, 40, dari Bojonegoro (Jatim). Dia kehilangan jabatan, gara-gara cari kenikmatan bersama istri orang.

Lagi-lagi survei membuktikan bahwa rumput tetangga terasa lebih hijau dari rumput di rumah sendiri. Tak percaya, tanyakan pada Kasun Marijo dari Desa Turigede Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro ini. Di rumah dia sebetulnya sudah punya ”rumput” yang ijo ledhung-ledung (baca: subur) yang siap disabit kapan saja. Rumput itu bukan jenis kalanjana atau rumput gajah, tapi rumput bernama Watini, 37, yang jadi miliknya sejak 15 tahun lalu.

Bagaikan Raden Damarwulan dalam legenda Jawa, setiap saat Marijo bisa ”merumput” tanpa ada yang mengganggu, baik itu Layangseta atau Layangkumitir, apa lagi Minakjinggo. Semua halalan tayiban, istilah kata: peken kabeh, nyat kuwi duwekmu (ambil semuanya, memang itu milikmu). Cuma sifat manusia kan mudah dilanda jenuh, jika terjebak pada obyek yang sama. Meski rumput miliknya begitu subur, Kasun Marijo tertarik juga pada rumput lain yang belum pernah disantapnya.

Adalah Ny. Nurul, 30, tetangganya sendiri, yang di mata Pak Kasun bagaikan rumput lain yang begitu ijo royo-royo dan lezat rasanya. Setiap ketemu wanita ini, pendulumnya langsung kontak blip-blip…… Dalam usia baru kepala 3, penampilan wanita ini memang demikian menjanjikan. Bodinya sekel nan cemekel, dan naluri lelakinya bisa mengatakan: Ny. Nurul memang enak digoyang dan perlu!

Awalnya Marijo sekedar terpesona saja. Tapi yang namanya setan, dia sangat tanggap pada kesan-kesan lelaki model begitu. Maka dengan cepat Pak Kasun ini dipepet, dimotivasi agar punya keberanian mendekati. “Ingat Bleh, suami Nurul kan sudah lama tak di rumah. Ibarat Bank Indonesia, kamu layak jadi “gubernur”-nya sekarang,” kata setan penuh hasutan.

Gara-gara “santiaji” dan petunjuk bapak setan, Pak Kasun diam-diam mendekati Ny. Nurul juga. Awalnya sekedar main-main selepas magrib, eh ternyata tanggapannya ramah sekali. Lain hari lebih malam lagi, dan bini Kasmo itu tetap tak mengubah wajah dan sikap. Dicoba pukul 22.00 baru bertamu, Ny. Nurul masih senang-senang saja. Merasa lampu ijo mulai menyala, dia segera menggelandang perempuan itu ke dalam kamar. Untuk selanjutnya, semua terserah Anda…..

Ny. Nurul memang sangat kesepian lama ditinggal suami bekerja di Kalimantan. Maka kehadiran Pak Kasun sungguh pada saat yang tepat, bagaikan orang ngantuk disorong bantal, bagaikan orang lapar disodori nasi gudeg komplit. Ajakan mesum Marijo ditanggapi dengan gegap gempita. Ibarat orang main bulutangkis, bola-bola serangan Pak Kasun dibalas dengan smash-smash tajam menukik, sampai kemudian “bola” Marijo nyangkut di net.

Sejak berhasil nyenggut (makan) rumput tetangga yang ijo royo-royo tersebut, di tengah malam Pak Kasun rajin mengunjungi Ny. Nurul. Tapi pada kunjungan beberapa malam lalu, ketika dia “belum apa-apa”, keburu digerebek warganya sendiri. Nurul – Marijo segera disidang di kantor desa, disaksikan aparat kepolisian. Mungkin karena merasa bersalah, Pak Kasun teken saja ketika diminta mengundurkan diri dari posisinya. “Semua perjuangan memang ada resikonya,” begitu katanya sangat legawa.

Ngeloni bini orang, apanya yang berjuang? (JP/Gunarso TS)

Nah Ini Diah

No comments:

Post a Comment