YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Di kawal ketat hingga TOILET


- Seiring banyaknya penculikan anak, banyak guru yang mengawasi anak didiknya secara ketat. Tapi di Bojonegoro (Jatim) ini lain; bekas murid yang sudah usia 20 tahun dikawal ketat sampai toilet sekolah segala. Padahal malam hari, keruan saja warga sekitar gedung SD tersebut langsung menggerebeknya.

Di era gombalisasi sekarang ini, cenderung manusia menghalalkan segala cara dalam mencari rejeki. Yang pejabat dan politisi, lewat jalur korupsi. Yang di sektor informal, ada yang jualan narkoba, menebar paku di jalan raya, atau tipu pemasang iklan lewat HP dan ATM. Yang lebih kejam lagi, menculik anak minta tebusan, padahal korbannya keluarga miskin macam Jefri. Maka jangankan Rp 35 juta, Rp 1 juta saja keluarganya pasti kebingungan untuk menyiapkan dalam waktu mendadak.

Menculik anak kini memang sedang marak, sehingga guru-guru di sekolahpun memberikan pengawasan dan pengawalan ketat ketika mereka pulang sekolah. Tapi Pak Guru Domo, 40, ini agak beda. Bekas muridnya, Yuni, yang sudah berusia 20 tahun, malam-malam dikawal ketat ketika hendak ke kamar mandi sekolah tempatnya dulu menimba ilmu. Orang pun pasti berpikir, Pak Guru ini rajin amat, apakah ini juga menambah nilai untuk sertifikasi guru?

Yuni dulu memang bekas murid Pak Domo waktu di SD. Setelah tamat SMP, dia tak melanjutkan sekolah, kecuali kerja bantu-bantu istri Pak Domo yang berjualan di pasar. Mungkin karena memperoleh hasil yang lumayan, hingga bertahun-tahun lamanya Yuni tak beralih pekerjaan. Dia terus membantu usaha dagang istrinya Pak Guru yang mengajarnya di SD dulu. Mereka memang bertetangga juga di Desa/Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Semakin tambah usia, dengan sendirinya Yuni semakin dewasa. Di kala SD dulu Pak Domo melihatnya anak tetangga ini sebagai gadis imut-imut. Tapi kini setelah menjadi dara remaja, yang dulu imut-imut tersebut kini berubah jadi amit-amit. Memang, bodi Yuni kini seksi, sekel nan cemekel kata orang Jawa. Sebagai lelaki normal, Pak Domo suka kontak pendulumnya menyaksikan penampilan bekas muridnya itu. “Sayang dia lahir terlambat, atau aku yang dilahirkan terlalu cepat,” gumam Pak Domo seakan menyesali nasib. Maksudnya ialah, jika umurnya sebaya kan bisa dipacari dan dikawini!

Bagi kalangan setan, penyesalan macam Pak Domo ini langsung masuk agenda tanggap-daruratnya. Bekas guru Yuni ini lalu dibangkitkan semangatnya, untuk lebih percaya diri. Katanya nih, untuk urusan cinta dan seks, tak ada perbedaan usia. Yang tua doyan yang muda, banyak. Yang muda doyan yang tua, juga ombyokan. Apa lagi bagi kaum lelaki, biar tua dan jelek, asal duit banyak bisa saja mencari yang muda nan renyah. Sebab untuk gadis sekarang, witing tresna iku merga saka atusan lima (baca: cinta tumbuh karena uang yang banyak).

Diam-diam Pak Domo yang non Kopkamtib ini mendekati Yuni. Meski lambat tapi pasti, aspirasi urusan bawah bekas gurunya tersebut dapat tanggapan positip. Sebagai mana lazimnya orang selingkuh, akhirnya pasti bermuara pada urusan ranjang. Tapi celakanya, mau ke hotel takut dicurigai. Dalam kondisi darurat, Pak Domo mengajak Yuni ke kamar mandi SD tempatnya dia mengajar. “Dalam kondisi darurat, model “jumenengan” (sambil berdiri) juga nggak apa Bleh….,” kata setan memberi semangat.

Tapi sial rupanya, ulah Domo – Yuni ini terlihat oleh peronda di kampungnya. Melihat Pak Guru membawa bekas muridnya ke toilet sekolah, langsung timbul tanda tanya besar. Takut terjadi apa-apa, keduanya segera digerebek. Saat itu keduanya memang belum sempat berbuat apa-apa, tapi tak urung keduanya harus memberi klarifikasi pada Pak Lurah. Kata Pak Domo, malam itu murni dia hanya mau memberikan pinjaman uang Rp 2 juta pada Yuni, untuk perbaikan rumahnya. Percayakah Pak Kades dan warganya? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Menyerahkan uang diam-diam bisa dituduh KPK nyuap lho. (JP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment