YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

Demi anak ponakan di "TABRAK"


- Jika pengin punya anak, sedang istri mandul, mestinya Jumadi, 50, kan bisa cari istri pengganti. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kawin lagi tak berani, tapi ponakan sendiri dihamili. Tentu saja urusannya jadi runyam, sebab orang tua Wiwin, 18, justru melapor ke polisi dan Jumadi pun mendekam di Polres Nganjuk (Jatim).

Meski “jatah” lelaki sampai 4 istri bila mampu, tapi menambah istri bukan perkara mudah. Di samping penolakan dari istri terdahuu, masyarakat pun akan memandang negatip pada pelaku poligami. Karenanya, meskipun halal dan di jalan Allah, para suami yang ber-“slendro-pelog” tidak pernah akan terbuka jumlah istrinya. Dalam Sensus Penduduk 2010 kemarin pun, takkan ada suami yang terang-terangan menyebut istrinya dua, tiga, empat.

Kondisi batin yang ewuh aya ing pambudi (serba salah) semacam itu, kini tengah membelit Jumadi warga Desa Sumberjo Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk. Istrinya ketahuan mandul sejak lama, tapi dia tak ada keberanian mencaraikan, atau menambah dengan istri baru. Padahal sebagai manusia normal, dia sangat membutuhkan keturunan sebagai penerus sejarah. Jika tidak ada keturunan, praktis garis silsilahnya akan terhenti sampai di situ saja. Lalu, jika sudah tua siapa yang ngurus? Kalau mati, siapa yang merawat kuburannya? Bisa-bisa diinjak-injak cah angon kebo!

Istrinya juga tahu apa yang menjadikan suaminya gundah gulana. Tapi meski dirinya tak bisa memberikan momongan, Ny. Jumadi memang tak rela ada wanita lain lagi di samping suami. Maka dia hanya mengajak Jumadi kepada pendekatan agama, bahwa tidak punya momongan karena sudah takdir Illahi. Padahal jikalau pendekatannya soal agama, mestinya Jumadi punya senjata: “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri berusaha untuk mengubahnya (QS: Ar Ra’du ayat 11).

Karena tak punya keberanian melawan nasib itulah, sampai usia kepala 5 sekarang ini, Jumadi tetap tak punya momongan. Paling celaka lagi, sudah tak punya anak, juga tak punya harta berlebih, jika tak mau disebut ekonominya nyenen-kemis. Nah, untuk memperbaiki ekonomi, kemudian istri Jumadi berangkat jadi TKW ke Arab Saudi. Terpaksa di rumah Jumadi seorang diri, masak sendiri, ngangsu sendiri, mencuci sendiri macam Rinso.

Soal perut memang masih bisa diatasi. Tapi soal yang di bawah perut? Sejak sang istri menjadi TKW 6 bulan lalu, Jumadi benar-benar nganggur di malam hari. Tidur pun selalu gedabigan (tak nyenyak) lantaran sudah lama tak “ngetap olie”. Dalam kondisi gelisah begitu, setan pun segera masuk, membujuk untuk memanfaatkan apa yang ada dulu. “Istri jauh, kan ada ponakan yang bisa dibuat “penak-penakan” Bleh…..,” kata setan memberikan motivasi.

Eh, saran setan itu ternyata diterima. Jumadi lalu ingat pada Wiwin, ponakannya yang sudah duduk di bangku kelas II SMA. Dia di SMS untuk main ke rumah paman, karena ada urusan penting. Saat gadis itu datang, langsung dirayu-rayu untuk diajak berhubungan intim. Kayak habis kesetrum videoo Ariel – Luna Maya saja, Wiwin bersedia melayani, sehingga perbuatan terkutuk itu benar-benar terjadi. Usai “ngetap olie”, sang paman lalu memberinya uang Rp 50.000,- sebagai tutup mulut sekaligus dana aspirasi.

Ternyata Jumadi menjadi ketagihan, sehingga lain kali nambah lagi dan nambah lagi. Proyek pendayagunaan ponakan itu baru berhenti ketika didapat laporan Wiwin hamil 3 bulan. Orangtuanya yang sekaligus juga kakak kandung Jumadi sendiri, segera melaporkannya ke Polres Nganjuk. Kini Jumadi mendekam di sel dingin, tapi ternyata tak ada penyesalan sedikitpun. “Aku melakukan ini semua kan demi keturunan,” kilahnya.

Tapi kan juga harus lihat-lihat, masak ponakan ditabrak juga. (JP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment