YOU CAN GET ALL

Thursday, 8 July 2010

CEMBURU di tiang GANTUNGAN


- Istri punya pil, itu kan bagus, karena berarti dia selalu menjaga kesehatannya dengan minum obat. Tapi yang bikin Wandoyo, 32, frustrasi, pil itu bukan obat, tapi kepanjangan Pria Idaman Lain (PIL). Tak tahan menahan derita batin, lelaki dari Bojonegoro (Jatim) ini mau gantung diri, untung berhasil digagalkan istrinya.

Punya bini cantik selalu menjadi idaman setiap lelaki. Padahal, setelah berhasil jadi bininya dan merasakannya, yang cantik itu menjadi biasa saja. Sebaliknya, buat orang luar, yang “biasa saja” itu tetap menarik, sehingga banyak yang mencoba intervensi. Di sinilah tak enaknya lelaki punya bini cantik, hatinya menjadi tak selalu nyaman, karena takut istrinya diserobot orang lain. “Makanya kalau mau tenang, kawin saja sama Atun pacarnya Mas Karyo (sinetron Si Dul Anak sekolahan – Red),” kata hati nurani.

Suasana hati Wandoyo kini dalam suasana seperti itu. Istrinya, Reni, 30, ditaksir lelaki lain. Mulailah dia stress. Makin stress lagi dia karena sepertinya sang istri memberi angin pada lelaki tersebut. Dan Wandoyo makin full stress lantaran status sosial dirinya kalah jauh dengan lelaki yang menguber-uber bininya. Pria yang mengincar istrinya tersebut pengusaha muda nan sukses. Sedang dirinya, hanya pegawai swasta bergaji kecil. PIL Rini selalu mengendarai mobil bagus, sedangkan Wandoyo cuma punya Honda 69 biru yang suaranya ngukkkk ngukkkkk…..!

Lelaki dari Desa Mayangrejo Kecamatan Kalitidu ini pernah klarifikasi pada istrinya, benarkah ada main dengan lelaki bernama Marmo, 35, itu? Rini menjawab tegas, tidak pernah meladeni, meski lelaki itu mengincar dirinya. Istri pun minta suami jangan terlalu khawatir, karena dia menjamin bahwa tak mungkin rumahtangganya yang sudah dikarunai satu anak itu dikorbankan demi lelaki tersebut. Untuk sementara tenanglah jiwa dan hati Wandoyo. ”Oh Sri Mulyaniku….,” kata Wandoyo seakan menyetarakan mental istrinya dengan Menkeu Indonesia yang diambil Bank Dunia.

Ironisnya, katanya tak meladeni ajakan gila Marmo, nyatanya setiap SMS lelaki itu selalu dibalas. Ditilik dari kata-katanya yang masih sejuk nan mesra, itu berarti Rini sama sekali tak ada perlawanan. Kembali pikiran Wandoyo kacau balau. Dia lalu ingat akan falsafah kotemporer cewek masa kini: witing tresna merga atusan lima (baca: cinta tumbuh karena harta). Jika terus-terusan dirayu dengan cek pelawat macam anggota DPR kita, lama-lama Rini bisa bertekuk lutut dan berbuka paha untuk Marmo.

Memikirkan kemungkinan ini, kepala Wandoyo menjadi pusing. Menyesal sekali kenapa dia jadi orang miskin, kenapa dulu tidak bekerja di Ditjen Pajak? Kalau dirinya punya penghasilan sehari Rp 10 juta macam Gayus, tak mungkin istrinya tergoyahkan imannya oleh bujukan lelaki lain. Tapi apa daya, fakta di lapangan menunjukkan, dia tetap hanya punya Honda 69 biru si engukkkk….engukkkk! Dan itu artinya, lepasnya Rini dari tangannya tinggal menghitung hari.

Mendadak Wandoyo menjadi paranoid (takut berlebihan). Tak kuasa melihat istrinya diambil orang, dia memilih tak melihat padange ndonya alias bunuh diri saja. Ayat Qur’an yang mengingatkan jangan putusa asa pada rahmat Allah (Surat Yusuf: 87), tertutup oleh bujukan setan yang mengajaknya ke tali gantungan berupa sarung. Untung saja, saat dia mulai menjerat lehernya dengan sarung maut, istrinya terjaga dari tidurnya. ”La illahailallah…..,” kata Rini sambil menjerit.
Tetangganya pun berdatangan dan menurunkan tubuh Wandoyo. Untung belum keburu wasallam, sehingga dengan pengobatan ringan di PKU Muhammadiyah Kalitidu, dia sudah boleh pulang ke rumah hari itu.
Hampir saja pulang ke rahmatullah. (JP/Gunarso TS)

Nah Ini Dia

No comments:

Post a Comment